Inflasi Skor Review Game: Kenapa Hampir Semua Game Dapat Nilai 8

Kenapa hampir semua game dapat nilai 8 atau 9? Kupas tuntas inflasi skor review game dan cara membacanya biar nggak salah beli.

Saya baru sadar sesuatu waktu iseng scroll Metacritic minggu lalu: rasanya semua game rilisan baru dapat nilai 8 atau 9. Nyaris nggak ada yang kebagian angka 5 atau 6. Fenomena inflasi skor review game ini sebenarnya bukan hal baru, tapi makin lama makin kelihatan aneh. Sebagai contoh, kalau skala nilainya 1 sampai 10, kenapa praktiknya cuma dipakai dari 7 ke atas? Sisanya seolah cuma pajangan.

Awalnya saya kira ini cuma perasaan saya doang. Namun setelah ngobrol sama beberapa teman yang juga sering baca review sebelum beli game, ternyata mereka merasakan hal yang sama. Angka 7 yang harusnya berarti “lumayan bagus” malah sering dibaca gamer sebagai “game jelek”. Ada yang salah di sini, dan menurut saya menariknya justru bukan di reviewernya, melainkan di cara kita semua membaca angka.

Kenapa Inflasi Skor Review Game Bisa Terjadi

Pertama, ada tekanan yang jarang kelihatan dari luar. Reviewer sering dapat kode game gratis dari publisher sebelum rilis, lengkap dengan embargo soal kapan review boleh terbit. Namun hubungan ini bikin posisi jadi canggung. Kalau nilai yang dikasih terlalu rendah, ada risiko kode game berikutnya nggak dikirim lagi. Oleh karena itu, banyak media main aman di zona nilai tinggi.

Selanjutnya, ada masalah kompresi skala. Faktanya, kebanyakan skor bergerak di rentang 7 sampai 9 saja. Angka di bawah 6 hampir jadi hukuman mati untuk sebuah game, jadi reviewer ragu memakainya kecuali game itu benar-benar rusak. Dengan demikian, skala 1 sampai 10 secara praktik berubah jadi skala 3 poin. Sebaliknya, film atau musik justru lebih berani memberi nilai rendah.

Selain itu, agregator seperti Metacritic bikin taruhannya makin tinggi. Beberapa publisher konon mengaitkan bonus developer dengan skor Metacritic tertentu. Bayangkan kariermu dinilai dari selisih satu poin. Tekanan semacam itu pelan-pelan mendorong seluruh ekosistem ke arah angka yang lebih ramah.

Skor 7 seharusnya berarti game yang solid dan layak dimainkan. Masalahnya, banyak gamer justru membacanya sebagai peringatan untuk menjauh.

Dampaknya ke Cara Kita Memilih Game

Buat saya pribadi, efek paling nyata adalah angka jadi kehilangan makna. Ketika hampir semua game “bagus”, pujian itu berhenti terasa spesial. Sebagai contoh, waktu sebuah game biasa saja dapat 8/10, saya jadi sulit membedakannya dari game yang benar-benar luar biasa dengan nilai yang sama.

Namun ada sisi lain yang lebih mengkhawatirkan. Gamer yang cuma lihat angka tanpa baca isi reviewnya gampang tertipu. Sebuah game dengan skor 9 belum tentu cocok buat selera kamu. Sebaliknya, game dengan nilai 6 yang jujur soal kekurangannya kadang justru lebih menyenangkan dari yang kamu kira. Oleh karena itu, angka doang nggak pernah cukup jadi patokan.

Menariknya, sebagian reviewer sekarang mulai meninggalkan sistem skor angka sama sekali. Beberapa media besar cuma menulis kesimpulan tanpa nilai. Menurut saya ini langkah yang masuk akal, walaupun jujur agak bikin repot buat pembaca yang buru-buru pengen tahu “ini bagus atau nggak”. Trade-off yang nggak gampang.

Cara Membaca Skor Tanpa Ketipu

Singkatnya, jangan pernah beli game cuma berdasarkan satu angka. Pertama, baca dulu badan reviewnya, terutama bagian yang ngomongin kekurangan. Selanjutnya, cari reviewer yang seleranya mirip sama kamu, karena satu orang yang kamu percaya lebih berguna dari sepuluh skor acak. Faktanya, “8/10 buat dia” bisa berarti “6/10 buat kamu”.

Selain itu, nonton gameplay mentah tanpa komentar juga membantu. Kamu bisa lihat sendiri apakah gerakannya enak, grafisnya sesuai selera, dan pace-nya cocok. Dengan demikian, kamu nggak sepenuhnya bergantung pada penilaian orang lain. Video di bawah ini membahas kenapa inflasi skor bisa terjadi, dan cukup membuka mata soal industri di baliknya.

Kesimpulannya, inflasi skor bukan berarti reviewer bohong. Sistemnya memang sudah miring dari sananya, dari tekanan publisher sampai kebiasaan pembaca yang menganggap 7 itu buruk. Sebagai penutup, anggap saja skor sebagai titik awal, bukan jawaban akhir. Untuk konteks lebih luas soal bagaimana agregator ini bekerja, kamu bisa baca soal Metacritic di Wikipedia. Kalau mau bandingkan dengan sudut pandang lain soal penilaian game, cek juga artikel kami tentang apakah reviewer harus jago main game.