Apakah Reviewer Game Harus Jago Main? Perdebatan yang Tidak Pernah Selesai

Pernah lihat video game journalist yang gagal menyelesaikan tutorial Cuphead selama 26 menit? Video itu viral tahun 2017 dan memicu perdebatan yang sampai sekarang belum selesai: apakah reviewer game harus jago main game? Perdebatan reviewer game skill issue ini terus bergulir sampai sekarang.

Pertanyaan ini terdengar sederhana, tapi jawabannya rumit. Di satu sisi, bagaimana kamu bisa review game kompetitif kalau kamu tidak paham mekaniknya? Di sisi lain, apakah semua game harus direview oleh pro player?

Kontroversi Reviewer Game Skill Issue yang Tidak Pernah Selesai

Cuphead bukan kasus pertama. Dean Takahashi dari VentureBeat menghabiskan hampir setengah jam untuk melewati tutorial dasar. Dia gagal melakukan dash sederhana, bahkan tidak bisa melompat sambil menembak. Videonya ditonton jutaan kali, sebagian besar dengan komentar mengejek.

Namun, ada yang lebih parah. Tahun 2018, seorang reviewer IGN mengkritik difficulty Celeste, padahal game itu punya assist mode yang bisa disesuaikan. Kemudian tahun 2022, ada reviewer yang mengeluh Elden Ring terlalu sulit. Ternyata dia tidak pernah upgrade senjata atau level up karakternya.

Pola yang sama terus berulang. Pertama, reviewer mengkritik game sulit. Kedua, komunitas bilang “skill issue”. Ketiga, mulai debat panjang tentang siapa yang berhak review game.

Dilema Review: Skill vs Accessibility

Sebenarnya, masalahnya bukan cuma soal jago atau tidak. Ini lebih tentang ekspektasi yang bentrok antara berbagai kelompok gamer.

Pada dasarnya, gamer hardcore ingin reviewer yang paham meta, bisa speedrun, dan mengerti tech advanced. Mereka percaya review dari casual player tidak valid karena melewatkan nuansa penting. Logikanya sederhana: kalau kamu tidak bisa parry dengan sempurna, bagaimana kamu bisa nilai combat system Sekiro?

Sebaliknya, mayoritas pembeli game adalah casual player. Mereka butuh review dari perspektif orang biasa, bukan dari pro yang sudah main 500 jam Dark Souls. Jadi, kalau review cuma dari hardcore gamer, hasilnya bias ke arah “git gud” tanpa mempertimbangkan accessibility.

Deadline review memperburuk situasi. Publisher kirim review copy seminggu sebelum rilis, sementara reviewer harus main, analisis, tulis, dan publish dalam waktu singkat.

Akibatnya, untuk game 80 jam seperti Persona 5 atau game sulit seperti Sekiro, waktunya tidak cukup untuk mastery. Beberapa reviewer mengaku merasa tertekan. Mereka tahu skill mereka pas-pasan, tapi tetap harus review karena tuntutan pekerjaan.

Hasilnya? Review yang fokus ke early game dan mengabaikan endgame content. Atau bahkan, kritik yang tidak fair karena frustrasi reviewer sendiri.

Siapa yang Benar dalam Perdebatan Ini?

Sejujurnya, tidak ada yang 100% benar. Kedua sisi punya poin valid masing-masing.

Pertama, reviewer memang sebaiknya punya skill baseline. Misalnya, kalau kamu review fighting game tapi tidak tahu frame data, kredibilitas kamu dipertanyakan. Atau kalau review RTS tapi tidak paham build order, bagaimana kamu bisa nilai balancing? Ini bukan tentang jadi pro, melainkan tentang kompetensi dasar.

Namun demikian, skill tinggi bukan jaminan review bagus. Ada pro player yang review game cuma dari perspektif kompetitif. Mereka mengabaikan aspek casual seperti story, art direction, atau accessibility features. Dengan kata lain, review yang baik butuh keseimbangan antara technical knowledge dan empati ke player lain.

Lantas, apa solusi terbaik? Transparansi. Reviewer harus jujur tentang skill level dan playstyle mereka. Kalau kamu casual player, bilang terus terang. Sebaliknya, kalau kamu hardcore, akui bias kamu. Untuk konteks lebih lanjut soal debat ini, kamu bisa baca artikel kami tentang jebakan jam pertama dalam review game.

Untungnya, media besar seperti IGN dan GameSpot mulai pakai multi-reviewer system. Artinya, game direview dari berbagai perspektif, bukan cuma satu sudut pandang. Fenomena ini juga dibahas di Wikipedia soal video game journalism.

Giant Bomb punya sistem bagus: mereka upload full playthrough di YouTube sambil ngobrol. Dengan begitu, viewer bisa lihat langsung skill reviewer dan konteks keputusan mereka. Transparansi seperti ini mengurangi drama “skill issue” secara signifikan.

Yang pasti, mengejek reviewer karena skill pas-pasan bukan solusi. Kritik boleh, tapi toxic behavior cuma bikin industri game journalism semakin tidak sehat. Pada akhirnya, kita butuh review dari berbagai perspektif, bukan cuma dari hardcore gamer atau casual player saja.

Game itu medium luas. Ada yang main untuk story, ada yang untuk kompetitif, ada yang untuk relaksasi. Oleh karena itu, review harus mencerminkan keberagaman itu, bukan cuma satu sudut pandang.