Dunia gaming konsol baru saja berubah. Sony Interactive Entertainment mengumumkan kebijakan baru yang mengharuskan semua game multiplayer PS5 mendukung cross-play dengan platform lain mulai September 2026. Keputusan ini mengakhiri era di mana pemain PlayStation hanya bisa main dengan sesama pemilik konsol Sony.
Pengumuman ini datang setelah bertahun-tahun tekanan dari komunitas gaming. Selama ini, cross-play hanya tersedia untuk beberapa game besar seperti Fortnite dan Call of Duty. Sekarang, semua developer yang ingin merilis game multiplayer di PS5 wajib mengaktifkan fitur ini.
Sony umumkan kebijakan cross-play wajib
Dalam konferensi pers digital minggu lalu, Sony mengumumkan bahwa semua game multiplayer yang rilis setelah September 2026 harus support cross-play dengan Xbox Series X/S, PC, dan Nintendo Switch. Game yang sudah beredar di pasaran punya waktu sampai kuartal pertama 2027 untuk menambahkan fitur ini lewat update.
Keputusan ini bukan tanpa alasan. Persaingan dengan Xbox Game Pass yang makin agresif memaksa Sony untuk lebih terbuka. Xbox sudah lama menerapkan kebijakan cross-play friendly, dan Nintendo juga mulai membuka diri. PlayStation yang terus bertahan dengan ekosistem tertutup mulai terlihat ketinggalan zaman.
Namun, yang menarik adalah bagaimana Sony membingkai kebijakan ini. Mereka tidak mengakui bahwa ini karena tekanan kompetitor. Justru, mereka memasarkannya sebagai langkah pro-konsumen.
“Kami percaya bahwa pemain harus bebas bermain dengan siapa saja, di mana saja, tanpa dibatasi oleh perangkat keras yang mereka miliki. Ini tentang menempatkan pemain di pusat, bukan platform.”
Pernyataan resmi Sony ini terdengar bagus di telinga. Tapi kenyataannya, mereka terlambat beberapa tahun dari kompetitor. Yang penting, mereka akhirnya berubah.
Apa artinya buat gamer Indonesia
Buat kita yang main game di Indonesia, kebijakan ini berita bagus. Pertama, matchmaking bakal jauh lebih cepat. Selama ini, pemain PS5 cuma bisa ketemu sesama pemilik PS5. Dengan cross-play wajib, pool pemain gabung dari semua platform. Artinya, waktu tunggu untuk cari lawan atau teammate berkurang drastis.
Kedua, kamu bisa main bareng teman yang punya konsol berbeda. Dulu, kalau kamu punya PS5 dan temanmu punya Xbox, kalian harus beli game yang sama di platform yang sama buat bisa main bareng. Sekarang, tidak perlu lagi. Ini menghemat uang dan membuka lebih banyak opsi sosial.
Ketiga, harga game berpotensi turun. Kenapa? Karena developer sekarang bikin satu versi game yang jalan di semua platform. Biaya development lebih efisien, dan kompetisi antar platform store makin sehat. Steam, PlayStation Store, Xbox Store, dan eShop sekarang bersaing untuk kasih harga terbaik.
Selain itu, game multiplayer yang dulunya sepi pemain Indonesia karena player base terpecah antar platform sekarang punya harapan hidup lebih lama. Game niche atau indie multiplayer yang struggle cari pemain bakal lebih mudah bertahan.
https://www.youtube.com/watch?v=5Sf4vFjJw2A
Tantangan developer dan kontroversi
Tentu saja, kebijakan ini tidak sempurna. Developer kecil dan indie studio mengeluh bahwa implementasi cross-play itu mahal dan rumit secara teknis. Mereka harus membangun infrastruktur server yang kompatibel dengan beberapa platform sekaligus, plus menangani perbedaan input method antara controller dan keyboard-mouse.
Biaya ini bisa jadi beban berat buat studio kecil yang budgetnya pas-pasan. Apalagi kalau game mereka bukan live-service besar yang punya revenue stream jangka panjang. Sony merespons dengan menawarkan SDK tools gratis dan grace period enam bulan untuk game indie, tapi belum jelas seberapa efektif bantuan ini.
Lalu ada masalah cheater. PC gaming notoriously lebih rentan terhadap cheat dan hack dibanding console. Pemain console khawatir mereka bakal ketemu cheater PC di matchmaking. Sony bilang mereka punya anti-cheat solution yang lebih ketat, tapi komunitas masih skeptis. Kita tunggu saja buktinya beberapa bulan ke depan.
Kontroversi lain soal keadilan input. Keyboard dan mouse punya presisi lebih tinggi dari controller, terutama di game FPS. Pemain console merasa tidak fair ketika harus lawan pemain PC di game kompetitif. Solusinya biasanya input-based matchmaking, di mana pemain dikelompokkan berdasarkan input device mereka. Tapi ini mengurangi benefit dari pool pemain yang lebih besar.
Terlepas dari tantangan ini, arah yang diambil Sony tetap positif. Cross-play adalah masa depan gaming multiplayer, dan lebih cepat semua platform adopsi, lebih baik buat semua orang. Kita sebagai pemain akhirnya menang.

