Dulu saya suka banget nonton babak promosi degradasi liga League of Legends. Ada tim kecil yang berjuang mati-matian buat naik kelas, dan ada tim besar yang panik karena bisa saja terdepak. Namun sekarang drama itu hilang. Sistem franchise esports mengubah cara liga besar bekerja, dan tim tidak bisa lagi terdepak hanya karena satu musim buruk. Awalnya perubahan ini terdengar membosankan, tapi ternyata dampaknya jauh lebih dalam dari yang saya kira.
Faktanya, hampir semua liga top sekarang memakai model tertutup. Riot Games mengubah LCS dan LEC di League of Legends menjadi liga partner sekitar 2018 dan 2019. Selanjutnya Overwatch League dan Valorant Champions Tour ikut jalur serupa. Namun pertanyaannya tetap sama sampai hari ini: apakah menutup pintu liga itu bikin esports lebih sehat, atau malah menutup jalan buat tim kecil yang mau naik?
Apa Itu Sistem Franchise Esports
Singkatnya, sistem franchise esports adalah liga tertutup dengan jumlah slot tetap. Tim membeli slot itu, biasanya dengan biaya sangat mahal, lalu mereka jadi anggota permanen. Sebaliknya, sistem lama memakai promosi dan degradasi seperti sepak bola Eropa. Tim juara divisi bawah naik kelas, tim juru kunci divisi atas turun kelas.
Menurut Wikipedia, sistem promosi dan degradasi disebut liga terbuka karena performa satu musim menentukan siapa naik dan siapa turun. Karena itu tim mana pun secara teori punya jalan ke puncak. Namun liga franchise menghapus jalan itu. Oleh karena itu slot jadi aset bisnis, bukan hadiah dari hasil pertandingan.
Pertama, alasan utama liga memilih model tertutup adalah stabilitas finansial. Sebagai contoh, sponsor dan investor lebih tenang menaruh uang ketika sebuah tim dijamin tidak akan hilang dari liga tahun depan. Selanjutnya, pemain juga dapat kontrak lebih aman karena organisasinya tidak terancam terdegradasi. Faktanya, banyak orang di dalam industri melihat ini sebagai cara meniru liga olahraga Amerika seperti NBA.
Simak juga video ini yang membahas dampak franchise ke organisasi kecil di Amerika Utara. Konsep promosi dan degradasi versi olahraga tradisional jadi latar penting untuk memahami apa yang sebenarnya ditinggalkan esports.
Apa yang Hilang Ketika Pintu Liga Ditutup
Namun stabilitas itu ada harganya. Karena tidak ada degradasi, tim papan bawah tidak punya hukuman nyata saat kalah terus. Sebaliknya, di sistem terbuka, tim yang malas berbenah akan langsung terlempar ke divisi bawah. Karena itu sebagian penonton merasa liga franchise kehilangan ketegangan yang bikin musim reguler terasa hidup.
Selanjutnya, ada soal akses. Tim kecil dan tim akar rumput sulit masuk karena harga slot bisa mencapai jutaan dolar. Oleh karena itu jalur dari komunitas ke panggung pro nyaris tertutup. Sebagai contoh, banyak organisasi kecil di scene League of Legends Amerika Utara mundur setelah franchise berlaku karena mereka tidak sanggup membeli tiket masuk.
Sistem terbuka menjanjikan mimpi, tim mana pun bisa naik ke puncak. Sistem franchise menjanjikan kepastian, tapi mimpi itu ikut hilang bersama pintu yang ditutup.
Menariknya, kritik ini tidak cuma datang dari penonton. Sejumlah analis bisnis esports menilai model franchise membuat liga terlalu bergantung pada segelintir organisasi besar. Sebaliknya, sistem terbuka dianggap lebih baik untuk melahirkan bakat lokal karena tim kecil terus punya alasan berjuang. Walaupun begitu, sisi finansial promosi degradasi memang lebih rapuh.
Kesimpulan: Franchise Bukan Jawaban Akhir
Akhirnya, arah angin mulai berubah lagi. Riot Games dikabarkan akan menggeser Valorant Champions Tour 2027 dengan mengurangi slot partner yang dijamin dan membuka kembali jalur kualifikasi terbuka serta promosi degradasi. Karena itu keputusan menutup liga ternyata tidak sepermanen yang dibayangkan banyak orang beberapa tahun lalu.
Menurut saya, tidak ada satu jawaban yang benar-benar menang di sini. Sistem franchise esports memberi keamanan buat pemain dan sponsor, tapi mengorbankan mimpi tim kecil. Sebaliknya, promosi degradasi menjaga mimpi itu tetap hidup, tapi bikin bisnis lebih gelisah. Oleh karena itu setiap game akhirnya harus memilih racun mereka sendiri.
Singkatnya, sebagai penonton kita sebaiknya berhenti melihat model liga sebagai sesuatu yang final. Faktanya, esports masih muda dan terus bereksperimen dengan bentuknya. Kalau kamu tertarik dengan sisi uang di balik layar, baca juga bahasan kami soal sponsor tim esports yang menentukan segalanya. Sebagai penutup, satu hal yang pasti, drama naik turun kelas itu ternyata sangat dirindukan.

