Review Game Klasik: Adilkah Menilai Game Lama Pakai Standar Sekarang?

Beberapa minggu lalu saya membuka lagi sebuah game PS1 yang katanya legendaris. Baru sepuluh menit, saya sudah frustrasi. Kontrolnya kaku, kameranya melawan saya, dan tidak ada autosave sama sekali. Jadi muncul pertanyaan yang bikin pusing setiap orang yang nulis review game klasik: apakah adil menilai game berumur puluhan tahun dengan ekspektasi tahun 2026?

Masalahnya bukan soal game itu jelek. Sebab pada zamannya, game tersebut memang memecahkan banyak batas. Tapi kalau kita main sekarang, tanpa konteks, rasanya seperti mundur ke belakang. Dua sudut pandang ini sering bertabrakan, dan justru di situ letak kesulitannya.

Kenapa review game klasik gampang bikin salah paham

Ketika seorang reviewer menilai game lama, ada dua jebakan yang saling berlawanan. Pertama, jebakan nostalgia. Kalau kamu tumbuh besar dengan game itu, kamu cenderung memaafkan segala kekurangannya. Kontrol payah jadi terasa “khas”, grinding berjam-jam jadi terasa “epik”. Padahal buat pemain baru, hal yang sama cuma terasa menyiksa.

Kedua, jebakan sebaliknya, yaitu menghakimi mentah-mentah pakai standar sekarang. Misalnya kamu main Resident Evil pertama lalu mengeluh soal tank controls, atau main Final Fantasy lawas dan protes kenapa random encounter muncul tiap tiga langkah. Keluhan itu tidak salah, tetapi kadang melewatkan konteks kenapa desain seperti itu dibuat. Sebab keterbatasan hardware waktu itu memaksa developer mengambil banyak keputusan yang sekarang terlihat aneh.

Jadi review game klasik yang bagus harus jalan di antara dua kutub tadi. Reviewer perlu jujur bahwa sesuatu terasa kuno, namun tetap menjelaskan kenapa game itu penting saat rilis. Tanpa keseimbangan itu, pembaca cuma dapat setengah cerita.

Game lama bukan cuma dinilai dari seberapa enak dimainkan hari ini, tapi juga dari seberapa jauh ia mendorong batas ketika belum ada yang berani melakukannya.

Cara membaca review game klasik tanpa terjebak

Kalau kamu mau beli game lama yang baru muncul lagi di Steam atau GOG, ada beberapa hal yang bisa kamu perhatikan. Pertama, cek apakah reviewer memisahkan “nilai historis” dari “kenyamanan main sekarang”. Sebab dua hal ini beda jauh. Sebuah game bisa saja revolusioner secara sejarah, tetapi terasa berat dimainkan tanpa mod atau patch komunitas.

Kedua, perhatikan apakah versi yang direview itu versi asli atau versi yang sudah dipoles. Kadang rilis ulang menambahkan quality of life seperti fast travel, save di mana saja, atau opsi mempercepat animasi. Kalau reviewer main versi yang sudah dimodernkan, pengalamannya jelas beda dengan kamu yang main ROM mentah. Karena itu, tanggal dan platform review penting banget.

Ketiga, cari reviewer yang jujur soal latar belakangnya. Misalnya, apakah dia main game ini pertama kali sekarang, atau sudah main sejak kecil? Sebab jawaban itu langsung memengaruhi seberapa toleran dia terhadap gesekan desain lama. Kalau dia baru main sekarang dan tetap menikmati, itu sinyal kuat. Namun kalau nostalgianya kental, ambil skornya dengan sedikit kehati-hatian.

Untuk gambaran lebih luas soal objektivitas dalam menilai game, kamu bisa lihat pembahasan ini:

Selain itu, jangan lupa bahwa banyak game klasik memang lahir dari era permainan video retro dengan aturan main yang sama sekali berbeda. Sementara sekarang kita terbiasa dengan tutorial ramah dan checkpoint tiap lima menit, dulu tidak ada yang menuntun. Maka wajar kalau rasanya lebih keras.

Penutup

Menilai game lama itu memang tidak pernah benar-benar netral. Di satu sisi, kita tidak bisa pura-pura standar sekarang tidak ada. Di sisi lain, kita juga tidak adil kalau menghapus konteks sejarahnya. Jadi review game klasik terbaik biasanya bukan yang kasih angka bulat, melainkan yang menjelaskan untuk siapa game itu masih layak dimainkan.

Kalau kamu tertarik main game lawas, saran saya sederhana. Baca beberapa review sekaligus, campur antara suara veteran dan pemain baru, lalu sesuaikan dengan selera sendiri. Sebab pada akhirnya, kamu yang akan memegang stik, bukan si reviewer. Buat sudut pandang lain soal menilai game, kamu juga bisa baca artikel kami tentang inflasi skor review game.