Kalau kamu punya PC gaming yang dirakit dalam tiga tahun terakhir, ada kemungkinan besar kamu punya fitur yang bisa naikin FPS 5-15 persen tanpa biaya sepeser pun. Masalahnya, mayoritas gamer tidak tahu fiturnya ada, atau sudah tahu tapi belum pernah menyalakannya.
Fitur itu namanya Resizable BAR, atau di sisi AMD disebut Smart Access Memory. Teknologi ini sudah ada sejak spesifikasi PCIe, tapi baru mulai dipakai secara luas setelah AMD dorong Smart Access Memory di GPU RDNA 2 tahun 2020 dan Nvidia ikut buka dukungan Resizable BAR di RTX 30 series awal 2021.
Jadi kenapa banyak yang belum menyalakan? Karena fitur ini tidak aktif otomatis. Kamu harus masuk BIOS, update firmware kadang butuh tiga komponen sekaligus (BIOS motherboard, vBIOS GPU, dan driver), lalu centang opsi yang namanya beda-beda tergantung merek motherboard.
Sebagian gamer ragu karena tidak yakin apakah effort segitu sepadan. Mari kita bedah apa sebenarnya teknologi ini, berapa besar dampaknya, dan kapan kamu benar-benar butuh menyalakannya.
Apa Itu Resizable BAR dan Cara Kerjanya
Resizable BAR adalah fitur PCIe yang bikin CPU bisa akses seluruh memori VRAM GPU sekaligus, bukan cuma sebagian kecil seperti cara lama.
Secara tradisional, CPU cuma boleh lihat VRAM GPU lewat jendela kecil berukuran 256 MB. Kalau CPU butuh data tekstur atau model 3D yang tersimpan di luar jendela itu, GPU harus geser-geser isi jendela seperti orang mengintip lewat lubang kunci. Proses geser ini butuh waktu, dan kadang bikin CPU nunggu idle padahal GPU sibuk.
Resizable BAR membuka jendela itu sampai sebesar kapasitas penuh VRAM. GPU punya 12 GB VRAM? CPU bisa akses semua 12 GB langsung tanpa harus geser-geser. Komunikasi jadi lebih lancar, terutama di game yang sering minta data besar dari VRAM seperti tekstur resolusi tinggi atau geometri kompleks.
Resizable BAR bikin CPU dan GPU berkomunikasi seperti satu tim, bukan dua departemen yang kirim memo lewat kotak surat kecil.
AMD kasih nama Smart Access Memory untuk fitur yang sama persis, cuma beda branding. Nvidia pakai nama Resizable BAR, Intel juga pakai istilah yang sama. Intinya semua mengacu ke teknologi PCIe Base Address Register yang bisa diubah ukurannya.
Syarat wajib supaya fitur ini jalan: CPU generasi yang mendukung (Intel 10th gen ke atas atau AMD Ryzen 3000 ke atas), motherboard chipset yang kompatibel (B450 ke atas untuk AMD, Z490 ke atas untuk Intel), GPU yang sudah support (RTX 30/40 series, RX 6000/7000 series, Arc), dan BIOS yang sudah diupdate ke versi yang bawa dukungan Resizable BAR.
Kalau salah satu komponen tidak mendukung, fitur ini tidak bisa dinyalakan sama sekali. Makanya gamer dengan PC lawas yang masih pakai GTX 1080 atau Ryzen 2600 tidak bisa pakai fitur ini meski update BIOS berkali-kali.
Berapa Besar Dampak FPS Sebenarnya
Jawabannya: tergantung game.
Sebagian game naik lumayan, sebagian hampir tidak berubah. Rata-rata kenaikan FPS berkisar 3-10 persen di game yang dioptimasi dengan baik, tapi ada outlier yang tembus 15-20 persen seperti Forza Horizon 5, Assassin’s Creed Valhalla, dan Cyberpunk 2077 dengan ray tracing.
Benchmark dari TechPowerUp dan Hardware Unboxed tahun 2023-2025 menunjukkan pola yang konsisten: game dengan tekstur besar dan streaming aset agresif dapat manfaat paling besar. Game kompetitif seperti CS2, Valorant, atau Apex Legends naik cuma 2-4 persen, kadang bahkan dalam margin error.
Satu hal yang menarik, ada game yang justru FPS-nya turun sedikit ketika Resizable BAR dinyalakan. Contohnya beberapa game lama atau game indie yang tidak didesain dengan asumsi CPU bisa akses VRAM penuh. Penurunannya biasanya cuma 1-3 persen, tapi cukup bikin developer game rilis hotfix untuk matikan fitur ini secara manual lewat pengaturan game.
Kenaikan paling terasa di 1% low, bukan average FPS. Kalau kamu main game dan kadang terasa ada jeda pendek atau frame drop tiba-tiba meski FPS counter tinggi, Resizable BAR bisa bantu haluskan itu. Komunikasi CPU-GPU yang lebih lancar bikin momen bottleneck CPU berkurang.
Resolusi juga pengaruh. Di 1080p, CPU lebih sering jadi penghambat karena GPU kencang sudah selesai kerja duluan. Resizable BAR bantu di skenario ini. Di 4K, GPU jadi penghambat karena sibuk gambar piksel sebanyak itu, jadi manfaat Resizable BAR lebih tipis.
Angka 5-15 persen tadi bukan angka ajaib yang berlaku di semua game. Kalau kamu main game yang kebetulan tidak dapat manfaat besar, kenaikannya bisa cuma 2-3 FPS dari 100 FPS, hampir tidak terasa. Tapi kalau main game yang cocok, naik 10-12 FPS lumayan banget tanpa ganti hardware.
Cara Mengaktifkan Resizable BAR di PC
Pertama, pastikan hardware kamu mendukung. Cek spesifikasi motherboard dan GPU di situs resmi pabrikan. Kalau sudah yakin, ikuti langkah ini:
1. Update BIOS motherboard: Unduh BIOS terbaru dari situs ASUS, MSI, Gigabyte, atau ASRock sesuai model motherboard. Flash BIOS lewat USB atau utilitas bawaan Windows. Proses ini berisiko kalau listrik mati di tengah jalan, jadi pastikan pakai UPS atau laptop yang masih penuh baterainya.
2. Update vBIOS GPU (opsional tapi disarankan): Sebagian GPU butuh update firmware GPU sendiri supaya Resizable BAR stabil. Nvidia punya tool NVFlash, AMD pakai AMDvBFlash. Cek di forum Reddit atau situs pabrikan kartu (bukan Nvidia/AMD langsung) apakah ada update vBIOS untuk model kartumu.
3. Update driver GPU: Pastikan driver Nvidia atau AMD versi terbaru. Driver lama kadang tidak support Resizable BAR meski hardware sudah siap.
4. Masuk BIOS: Restart PC, tekan tombol DEL atau F2 (tergantung merek) masuk ke menu BIOS/UEFI. Cari opsi bernama “Resizable BAR”, “Above 4G Decoding”, “Smart Access Memory”, atau “SAM”. Lokasinya beda tiap merek, biasanya ada di bagian Advanced > PCI Subsystem atau Chipset Configuration.
5. Aktifkan dua opsi: Kamu biasanya harus centang Above 4G Decoding dulu, baru opsi Resizable BAR Support muncul. Kalau cuma centang satu, fitur tidak aktif penuh. Simpan pengaturan (biasanya F10) dan restart.
6. Verifikasi lewat GPU-Z: Buka software GPU-Z gratis, scroll ke bawah cari baris “Resizable BAR”. Kalau tertulis “Enabled”, kamu berhasil. Kalau “Disabled” atau “Not Supported”, cek lagi langkah sebelumnya atau hardware kamu memang belum kompatibel.
Kesalahan umum yang sering terjadi: lupa centang Above 4G Decoding, pakai slot PCIe yang salah (slot kedua atau ketiga kadang tidak support), atau BIOS motherboard terlalu lama meski chipset sebenarnya bisa.
Kalau setelah dinyalakan game jadi crash atau tidak stabil, matikan lagi lewat BIOS. Ada kasus langka di mana kombinasi hardware tertentu atau game spesifik bentrok dengan Resizable BAR. Tapi mayoritas pengguna tidak mengalami masalah apa-apa.
Siapa yang Benar-benar Butuh Resizable BAR
Kalau kamu main game AAA modern di 1080p atau 1440p dengan GPU kelas menengah ke atas, Resizable BAR layak dinyalakan. Kenaikan FPS 5-10 persen gratis tanpa overclock atau upgrade hardware, kenapa tidak?
Kalau main game kompetitif seperti Valorant atau CS2 yang FPS-nya sudah tembus 200-300, manfaatnya hampir tidak terasa. Tapi 1% low yang lebih stabil tetap bagus untuk pengalaman yang lebih konsisten.
Kalau PC kamu CPU-limited (GPU usage di MSI Afterburner sering di bawah 90 persen sementara CPU inti penuh 100 persen), Resizable BAR bisa bantu kurangi bottleneck komunikasi. Tapi kalau GPU-limited (GPU usage 98-100 persen terus), kenaikan FPS bakal minimal karena GPU sudah kerja maksimal.
Kalau kamu pakai laptop gaming, cek dulu apakah BIOS laptop ada opsi Resizable BAR. Laptop brand tertentu kunci BIOS mereka dan tidak kasih akses ke opsi lanjutan. Kalau begitu, kamu tidak bisa nyalain meski hardware support.
Kalau kamu tidak pernah masuk BIOS atau merasa ribet update firmware, tidak perlu memaksa diri. Kenaikan 5-8 FPS tidak akan ubah pengalaman dari tidak bisa main jadi lancar, cuma dari lancar jadi sedikit lebih lancar.
Resizable BAR bukan fitur wajib seperti driver GPU yang harus selalu update. Ini lebih ke optimasi opsional yang bisa kamu lakukan kalau punya waktu dan hardware mendukung. Tidak menyalakan bukan berarti kamu kehilangan setengah performa PC.

