Preservasi Game: Kenapa Ribuan Game Lama Terancam Hilang Selamanya

Bayangkan kamu ingin main game masa kecil yang dulu bikin kamu ketagihan. Kamu cari di internet, toko digital, bahkan marketplace bekas. Hasilnya? Tidak ada. Game itu hilang, seolah tidak pernah ada. Ini bukan cerita horor, ini kenyataan yang dialami ribuan game klasik saat ini.

Preservasi game, atau upaya menyelamatkan dan menjaga agar game lama tetap bisa dimainkan, jadi isu yang semakin mendesak di industri. Berbeda dengan film atau musik yang punya sistem arsip mapan, game punya masalah unik: hardware usang, server mati, dan hukum hak cipta yang bikin upaya penyelamatan jadi rumit.

Kenapa Preservasi Game Jadi Isu Mendesak

Industri game baru berumur sekitar 50 tahun, tapi kita sudah kehilangan 87% game komersial yang dirilis sebelum 2010, menurut riset Video Game History Foundation tahun 2023. Angka ini lebih parah dari film era silent yang hilang (75%) atau musik rekaman awal (50%).

Selain itu, game modern punya ketergantungan ke server online yang bikin preservasi makin sulit. Ketika publisher tutup server, game multiplayer-only seperti Overwatch 1 atau Marvel’s Avengers jadi tidak bisa dimainkan sama sekali, meskipun kamu sudah beli gamenya. Uang hilang, akses hilang, memori hilang.

Masalah lain datang dari format fisik yang rusak seiring waktu. Cartridge NES mulai aus, CD PlayStation 1 berjamur karena disc rot, dan floppy disk era DOS sudah banyak yang tidak terbaca. Faktanya, hardware lawas juga makin langka dan mahal, bikin main game original semakin tidak realistis buat orang biasa.

Upaya Preservasi dari Museum hingga Emulator

Untungnya, ada berbagai pihak yang serius berusaha menyelamatkan warisan digital ini. Video Game History Foundation dan The Strong National Museum of Play di AS mengumpulkan ribuan game fisik, hardware, dan dokumentasi pengembangan. Mereka simpan di ruang terkontrol suhu dan kelembaban, persis seperti museum film atau perpustakaan nasional.

Di sisi lain, komunitas emulator seperti MAME (Multiple Arcade Machine Emulator) dan Internet Archive bekerja dokumentasi software. MAME sudah preserve lebih dari 7.000 arcade game klasik, lengkap dengan ROM dan dokumentasi hardware. Internet Archive bahkan punya koleksi lebih dari 100.000 game lawas yang bisa dimainkan langsung di browser.

Namun, metode preservasi lewat emulator menghadapi tantangan hukum besar. Meskipun emulator sendiri legal, distribusi ROM game masih melanggar hak cipta, kecuali game tersebut sudah jadi abandonware atau pemilik hak cipta memberi izin. Nintendo terkenal agresif menuntut situs ROM, sementara publisher lain seperti SEGA justru toleran, bahkan merekrut developer emulator Sonic untuk proyek resmi.

“Preservasi bukan soal nostalgia. Ini soal menjaga sejarah medium seni interaktif yang paling berpengaruh di abad ini. Kalau kita tidak bertindak sekarang, generasi berikutnya tidak akan pernah tahu dari mana kita datang.” — Frank Cifaldi, pendiri Video Game History Foundation

Tantangan Hukum dan Masa Depan Preservasi Game

Hukum hak cipta jadi hambatan terbesar upaya preservasi. Di AS, DMCA (Digital Millennium Copyright Act) melarang bypassing proteksi DRM, bahkan untuk tujuan preservasi. Library of Congress memberi exemption terbatas tiap tiga tahun, tapi cakupannya sempit: hanya institusi resmi, hanya untuk research, tidak boleh distribusi publik.

Sementara itu, di Eropa, beberapa negara seperti Prancis dan Belanda punya aturan legal deposit yang wajibkan publisher menyerahkan salinan game ke perpustakaan nasional. Namun, akses tetap terbatas untuk peneliti dan tidak bisa dipinjam seperti buku biasa, bikin manfaatnya terbatas untuk publik umum.

Gerakan seperti Stop Killing Games yang dimulai tahun 2024 mencoba dorong regulasi agar publisher wajib bikin game tetap playable setelah server ditutup. Petisi mereka ke Komisi Eropa dapat ratusan ribu tanda tangan, tapi belum jadi kebijakan konkret sampai pertengahan 2026 ini.

Ke depan, masa depan preservasi game bergantung pada tiga hal: perubahan hukum yang lebih ramah terhadap upaya preservasi, kesadaran industri untuk dokumentasi proaktif (source code, design docs), dan kolaborasi komunitas. Beberapa publisher seperti GOG sudah mulai jual game klasik tanpa DRM dan kerja sama dengan pemilik IP lama, tapi ini masih minoritas.

Buat gamer biasa, kamu bisa bantu dengan beli game klasik di platform resmi yang support preservasi (GOG, Steam re-release), dukung organisasi preservasi lewat donasi, dan hindari membajak game yang masih dijual resmi. Preservasi game bukan cuma tanggung jawab museum, tapi tanggung jawab kita semua yang peduli dengan sejarah medium ini.

Baca juga: Beli Game Digital Hanya Lisensi: Kenapa Toko Kini Wajib Jujur

Referensi: Video Game Preservation – Wikipedia