Pay to Win di Game Premium: Bayar Mahal tapi Masih Diminta Bayar Lagi

Game harga 70 dolar masih pakai pay to win bikin gamer marah. Ini kenapa EA Sports FC dan NBA 2K dikritik keras soal microtransaction.

Kamu beli game seharga 70 dolar. Harusnya sudah dapat pengalaman lengkap, kan? Faktanya, fenomena pay to win game premium sekarang merajalela di industri. Game harga penuh malah menjejalkan microtransaction yang bikin siapa pun dengan dompet lebih tebal menang lebih mudah. Gamer di seluruh dunia mulai protes keras, dan beberapa publisher terpaksa mundur.

Kenapa Pay to Win Game Premium Jadi Masalah Besar

Bayangkan kamu beli mobil baru. Sudah bayar penuh, tapi ternyata rem dan AC dijual terpisah. Itulah yang terjadi dengan game seperti EA Sports FC 25 dan NBA 2K26. Kamu bayar harga penuh, tapi kalau mau kompetitif di mode online, harus beli FIFA Points atau VC (Virtual Currency) pakai uang sungguhan.

Bedanya dengan free-to-play jelas. Game gratis seperti Genshin Impact atau Fortnite boleh jualan item karena kamu tidak bayar di depan. Tapi pay to win game premium sudah minta 70 dolar, lalu masih pasang paywall untuk jadi kompetitif? Itu yang bikin gamer merasa ditipu.

Selain itu, EA Sports FC memasukkan Ultimate Team sebagai mode utama. Di sana, kamu buka pack kartu pemain secara acak. Pemain top seperti Mbappé atau Haaland punya peluang keluar sangat kecil. Mau bersaing? Buka ratusan pack, atau kalah telak dari pemain yang rela rogoh kocek dalam. Kasusnya mirip dengan NBA 2K26 MyTeam yang pakai sistem gacha serupa.

“Saya sudah bayar 70 dolar buat game ini. Kenapa saya masih harus bayar lagi supaya tidak kalah terus?” — Keluhan umum di forum Reddit r/EASportsFC

Oleh karena itu, komunitas gamer mulai boikot. Hashtag #SkipEAFC dan #BoycottNBA2K ramai di media sosial. Penjualan EA Sports FC 25 turun sekitar 18% dibanding FIFA 23 tahun sebelumnya, menurut data NPD Group. Itu bukti suara konsumen mulai didengar pasar.

Respons Publisher dan Regulator

Electronic Arts dan Take-Two (penerbit NBA 2K) awalnya membela sistem ini dengan alasan “pilihan pemain” dan “konten gratis berkelanjutan”. Namun, tekanan komunitas memaksa mereka ubah arah. EA akhirnya tambah mode offline Career yang tidak butuh microtransaction, meskipun tetap jadi mode pinggiran.

Di sisi regulasi, beberapa negara mulai turun tangan. Belanda dan Belgia sudah melarang loot box di game sejak 2018. Parlemen Eropa tahun 2025 mengeluarkan resolusi yang mewajibkan game dengan paid random item beri rating PEGI 16 minimum. Dengan demikian, game seperti EA Sports FC yang sebelumnya PEGI 3 (anak-anak) naik ke PEGI 16 di Eropa.

Namun demikian, di Indonesia belum ada regulasi khusus. Praktik pay to win game premium masih bebas beredar. Gamer Indonesia yang beli game impor digital via Steam atau PlayStation Store tetap kena sistem yang sama, ditambah kurs dolar yang makin makin.

Apa yang Bisa Gamer Lakukan

Pertama, jangan beli day-one kalau belum yakin. Tunggu review dari komunitas, bukan cuma kritikus. Cek Reddit, forum, atau Discord untuk tahu seberapa agresif monetisasi di mode online.

Kedua, manfaatkan refund policy. Steam beri jendela refund 14 hari dengan syarat main kurang dari 2 jam. PlayStation dan Xbox juga punya kebijakan serupa, meskipun lebih ketat. Kalau merasa tertipu, langsung refund dan tulis alasan jelas.

Ketiga, dukung developer yang jujur. Game seperti Elden Ring, Baldur’s Gate 3, atau Palworld terbukti bisa sukses besar tanpa pay-to-win. Beli game-game itu, biar publisher lain lihat model bisnis adil tetap menguntungkan.

Pada akhirnya, uang kamu adalah suara kamu. Publisher akan terus pakai pay-to-win selama masih laku. Boikot kolektif EA Sports FC membuktikan kalau gamer kompak, industri akan dengar.