Kenapa Kita Beli Game Sale tapi Tidak Pernah Dimainkan?

Fenomena beli game sale tapi tidak pernah dimainkan: psikologi FOMO, backlog digital, dan strategi mengatasi hoarding game.

Tadi pagi gue buka Steam, notifikasi sale lagi. Diskon 75% untuk game yang dari tahun lalu masuk wishlist. Klik beli, bayar, masuk library. Terus gue scroll ke bawah, ada 47 game lain yang belum pernah gue sentuh. Beberapa bahkan masih terbungkus plastik digital sejak sale tahun 2024.

Kalau lu merasa seperti ini, lu tidak sendirian. Faktanya, fenomena beli game sale tapi tidak pernah dimainkan adalah pola yang dialami jutaan gamer di seluruh dunia. Backlog game sekarang bukan cuma soal daftar tunggu, tapi sudah jadi kuburan digital yang terus membengkak tiap kali ada seasonal sale.

Kenapa Kita Beli Game Sale Padahal Tahu Tidak Akan Main?

Psikologinya sederhana namun kuat: FOMO (fear of missing out) digabung dengan dopamine rush dari “dapat deal bagus”. Ketika Steam atau Epic Games kasih diskon 80%, otak kita tidak melihat “game yang mungkin tidak sempat dimainkan”. Sebaliknya, otak kita melihat “penghematan Rp 200.000 kalau beli sekarang”.

Menurut artikel di Wikipedia tentang Steam, platform ini mengelola miliaran dolar transaksi game tiap tahun. Sebagian besar penjualan terjadi saat sale besar seperti Summer Sale atau Winter Sale. Dengan demikian, jutaan orang di seluruh dunia mengalami hal yang sama: membeli lebih cepat daripada bermain.

“Gue punya 200+ game di Steam. Gue main mungkin 15 game aja. Sisanya? Entah kapan.”

Seorang gamer di forum Reddit

Selain itu, ada juga faktor koleksi. Beberapa orang membeli game bukan untuk dimainkan, tapi untuk dimiliki. Library Steam atau Epic jadi semacam rak buku digital yang bikin bangga saat dilihat, meskipun tidak pernah dibuka. Oleh karena itu, hoarding digital ini sebenarnya adalah perilaku konsumen modern yang dipicu oleh harga murah dan akses mudah.

Library Penuh, Waktu Main Kosong

Masalah sebenarnya bukan pada harga atau jumlah game. Pertama, waktu kita terbatas. Kerja 8 jam, tidur 7 jam, commute 2 jam, makan dan urusan lain 3 jam. Sisa 4 jam per hari, dan itu kalau tidak ada tanggung jawab keluarga atau sosial. Selanjutnya, game modern rata-rata butuh 30-100 jam untuk diselesaikan. Satu game RPG bisa habiskan sebulan waktu main.

Jadi ketika kita beli 10 game dalam satu sale, kita sebenarnya membeli 500 jam konten. Namun kita hanya punya 120 jam waktu main per bulan (4 jam x 30 hari, dan itu kalau konsisten tiap hari). Matematikanya tidak masuk akal, tapi kita tetap beli.

Sebagai contoh, gue punya Witcher 3 sejak 2023. Total playtime: 2 jam. Gue stuck di tutorial Gwent dan belum lanjut lagi. Sementara itu, gue sudah beli Cyberpunk 2077, Baldur’s Gate 3, dan Elden Ring. Semuanya masih 0 jam. Backlog ini bukan lagi daftar tunggu, tapi monumen terhadap optimisme yang salah tempat.

Kesimpulan: Beli atau Tidak Beli?

Singkatnya, tidak ada jawaban mutlak. Kalau lu enjoy koleksi game dan tidak merasa bersalah, lanjutkan. Kalau backlog bikin stres, coba strategi ini: beli hanya jika lu akan main dalam 2 minggu ke depan. Atau, tunggu sampai game masuk backlog wishlist selama 6 bulan. Kalau setelah 6 bulan lu masih ingat dan mau main, baru beli.

Game sale memang menggoda. Tapi game yang dimainkan lebih berharga daripada game yang cuma duduk di library. Lu tidak perlu merasa FOMO setiap sale. Game tidak akan hilang. Sale akan datang lagi. Waktu main lu yang tidak akan kembali.