Gue baru sadar sesuatu yang aneh minggu lalu. Game AAA baru yang biasanya dijual Rp 400 ribuan di Steam, sekarang harganya Rp 900 ribu. Bukan cuma satu atau dua game. Hampir semua rilis baru dari publisher besar kena kenaikan yang sama. Ternyata ini bukan kebetulan.
Publisher Mulai Hapus Regional Pricing
Selama ini, Steam dan platform digital lain punya sistem regional pricing. Artinya, harga game disesuaikan dengan daya beli negara masing-masing. Game $60 di Amerika bisa jadi Rp 400 ribu di Indonesia, bukan langsung dikali kurs jadi Rp 900 ribuan. Sistem ini membantu gamer di negara berkembang tetap bisa beli game original tanpa harus rogoh kocek dalam.
Namun, beberapa publisher besar mulai cabut kebijakan ini. Mereka sekarang pakai harga flat global atau hanya kasih diskon kecil yang nggak sebanding dengan selisih daya beli. Alasannya? Mereka bilang ada abuse sistem, orang-orang beli game murah dari region lain pakai VPN terus jual lagi. Faktanya, yang kena dampak justru gamer lokal yang beli dengan cara legal.
“Kalau harga game baru Rp 900 ribu terus, mending gue beli game bekas PS5 atau nunggu sale 75 persen. Original tapi murah lebih masuk akal daripada mahal tapi tetap digital.”
Komentar gamer Indonesia di forum Steam
Sebagai contoh, EA dan Activision sudah lama nggak pakai regional pricing proper untuk Indonesia. Sebaliknya, Capcom masih kasih harga yang lumayan wajar, meskipun tetap lebih mahal dari dulu. Situasinya jadi semakin rumit karena setiap publisher punya kebijakan sendiri-sendiri.
Dampak ke Gamer Indonesia
Kenaikan harga ini bikin banyak gamer Indonesia mikir ulang sebelum beli game baru. Dengan UMR yang jauh lebih rendah dari negara maju, harga Rp 900 ribu untuk satu game itu setara beberapa hari kerja. Di Amerika, harga $60 mungkin cuma dua-tiga jam kerja buat sebagian orang.
Selain itu, kenaikan ini juga bikin gray market makin ramai. Key reseller macam yang jual Steam key dari region murah jadi pilihan banyak orang. Padahal, cara ini nggak selalu aman dan kadang melanggar terms of service. Tapi ya gimana lagi kalau harga resmi nggak masuk akal?
Yang lebih parah, ada kemungkinan banyak gamer yang akhirnya balik ke versi bajakan. Ini justru merugikan industri game sendiri karena kehilangan potensi penjualan dari market yang sebenarnya besar. Indonesia punya jutaan gamer, tapi kalau aksesnya dipersulit dengan harga nggak masuk akal, ya susah juga mau dukung developer secara legal.
Paradox Interactive, developer game strategi, sempat turunkan harga untuk beberapa currency termasuk Yuan China dan Real Brazil awal 2025. Ini menunjukkan ada publisher yang masih peduli dengan regional pricing. Namun, kasus kayak gini masih jadi minority di industri.
Penutup
Situasi harga game naik ini bikin posisi gamer Indonesia makin sulit. Di satu sisi, kita pengen dukung developer dan beli game original. Di sisi lain, harga yang nggak realistis bikin pilihan itu makin berat. Publisher mungkin khawatir soal abuse sistem, tapi solusinya harusnya bukan ngorbanin seluruh market yang sebenarnya main dengan fair.
Untuk sekarang, opsi terbaik mungkin cuma sabar nunggu sale besar atau cari game dari publisher yang masih respect regional pricing. Atau, kita bisa lebih vokal ke publisher lewat media sosial dan forum mereka. Kadang tekanan dari community bisa bikin mereka reconsider kebijakan pricing.
Untuk bacaan lebih lanjut tentang sistem pricing di game digital, bisa cek artikel Steam di Wikipedia.

