Kenapa Harga Game AAA Naik Jadi 70-80 Dolar: Inflasi atau Keserakahan?

Harga game AAA naik terus dalam beberapa tahun terakhir. Dulu kita biasa bayar 60 dolar untuk game baru. Sekarang, banyak game AAA dijual seharga 70 dolar, bahkan 80 dolar untuk edisi standar. Publisher bilang ini karena biaya produksi yang membengkak. Tapi apakah alasan itu cukup masuk akal, atau ini cuma keserakahan industri?

Biaya development memang naik drastis

Studio game AAA sekarang punya ratusan hingga ribuan karyawan. Sebagai perbandingan, game seperti The Last of Us Part II memakan waktu lima tahun dengan tim sekitar 200 orang. Budget development bisa mencapai 100 juta dolar atau lebih untuk game dengan grafis canggih dan dunia terbuka yang luas.

Selain itu, gaji developer juga naik seiring permintaan talenta teknis yang tinggi. Programmer, artist 3D, dan game designer sekarang bisa menuntut gaji yang kompetitif dengan industri tech lainnya. Karena itu, biaya operasional studio membengkak dibanding era PlayStation 2 atau Xbox 360.

Marketing budget juga jadi masalah besar. Publisher modern bisa menghabiskan 50 hingga 100 juta dolar hanya untuk promosi satu game. Trailer sinematik, iklan TV, kampanye influencer, dan event showcase semuanya butuh dana besar. Akibatnya, total biaya untuk meluncurkan satu game AAA bisa mencapai 200 hingga 300 juta dolar.

Microtransaction tidak cukup menutupi semuanya

Banyak orang berpikir microtransaction dan DLC sudah bikin publisher kaya. Memang benar, game seperti FIFA atau Call of Duty raup untung besar dari model ini. Namun, tidak semua game AAA bisa mengandalkan model live service.

Game single-player seperti God of War atau Horizon tidak punya banyak ruang untuk microtransaction. Pemain beli game sekali, tamat, lalu selesai. Publisher tidak bisa terus dapat pemasukan dari pemain seperti game multiplayer. Karena itu, harga awal game jadi satu-satunya sumber utama revenue untuk game jenis ini.

“Harga game konsol sudah stagnan di 60 dolar sejak tahun 2005. Kalau kita hitung inflasi selama 20 tahun, harga seharusnya sudah di atas 80 dolar sekarang.” (Analisis industri game 2024)

Namun, argumen inflasi ini juga punya lubang. Pasar game digital jauh lebih luas sekarang. Jutaan pemain di seluruh dunia beli game lewat Steam, PlayStation Store, dan Xbox Store tanpa biaya distribusi fisik. Volume penjualan yang lebih tinggi seharusnya bisa mengkompensasi biaya produksi.

Konsumen pushback tapi tetap beli

Komunitas gamer sering protes saat harga naik. Forum Reddit dan Twitter ramai dengan keluhan setiap kali ada game baru dijual 70 atau 80 dolar. Namun, data penjualan menunjukkan bahwa game tetap laku keras di minggu pertama.

Elden Ring, Hogwarts Legacy, dan Baldur’s Gate 3 semua terjual jutaan copy meski harganya tinggi. Publisher melihat data ini dan menyimpulkan bahwa pasar masih mau bayar. Selama penjualan tidak anjlok, tidak ada insentif untuk menurunkan harga kembali.

Masalahnya, gamer sering terjebak FOMO (fear of missing out) saat rilis. Mereka tidak mau ketinggalan diskusi komunitas atau spoiler yang beredar di media sosial. Akibatnya, mereka tetap beli game di harga penuh meski sambil mengeluh.

Ke depan, harga game AAA mungkin akan terus naik kalau konsumen tidak benar-benar boikot. Alternatifnya adalah menunggu diskon beberapa bulan setelah rilis, atau beralih ke game indie yang lebih murah dengan kualitas tetap bagus. Tapi selama demand tetap tinggi, publisher tidak punya alasan untuk mundur.