Kontrak Eksklusif yang Mulai Habis Masa
Sejak 2019, Epic Games Store rajin mengamankan game eksklusif lewat kontrak yang menggiurkan. Publisher dapat jaminan pembayaran di muka, bahkan sebelum game terjual satu kopi pun. Sebagai gantinya, game hanya boleh dijual di Epic selama 1-2 tahun sebelum bisa meluncur ke platform lain.
Sekarang, kontrak-kontrak itu mulai berakhir. Game yang dulu eksklusif Epic seperti Metro Exodus, Borderlands 3, dan Kingdom Hearts sudah bisa dibeli di Steam. Yang menarik, game-game baru justru langsung rilis di mana-mana sejak hari pertama. Tidak ada lagi jeda eksklusif bertahun-tahun.
Pergeseran ini bukan kebetulan. Epic sendiri mengakui strategi eksklusif itu menguras kantong. Laporan keuangan 2023-2024 menunjukkan Epic rugi miliaran dolar untuk subsidi game eksklusif, sementara pangsa pasar tetap jauh di bawah Steam yang menguasai sekitar 75% pasar distribusi PC global.
Publisher Pilih Jangkauan Luas dari Awal
Publisher game besar seperti Ubisoft, EA, dan Square Enix mulai menghindari deal eksklusif. Alasannya sederhana: kehilangan 75% pasar potensial selama setahun tidak sepadan dengan jaminan pembayaran Epic, apalagi jika game itu sebenarnya bisa laku keras di Steam.
Sebagai contoh, Alan Wake 2 sempat eksklusif Epic selama 18 bulan. Ketika akhirnya rilis di Steam Mei 2026, penjualan melonjak 300% dalam minggu pertama. Remedy Entertainment mengakui mereka kehilangan momentum besar karena mayoritas pemain PC menunggu versi Steam.
Sebaliknya, game seperti Starfield dan Diablo IV yang rilis multi-platform sejak awal langsung meraih jutaan pemain dalam 24 jam pertama. Pelajarannya jelas: di tahun 2026, gamer ingin pilihan, dan mereka tidak segan menunggu jika platform favorit mereka belum dapat akses.
Eksklusivitas platform PC di era digital tidak seperti konsol. Gamer PC punya banyak toko dalam satu perangkat yang sama. Kalau game tidak ada di toko favorit mereka, tunggu saja sampai ada.
Dampak buat Gamer Indonesia
Buat kita di Indonesia, perubahan ini jelas menguntungkan. Pertama, harga lebih kompetitif. Steam dan Epic sering berlomba kasih diskon untuk game yang sama. Kalau game cuma ada di satu toko, ya kita pasrah terima harga yang ditawarkan.
Kedua, metode pembayaran lebih beragam. Steam punya Indomaret, Alfamart, GoPay, dan puluhan opsi lokal lain. Epic masih terbatas, kebanyakan butuh kartu kredit atau PayPal. Multi-platform memberi kita akses lewat jalur yang paling mudah.
Ketiga, komunitas lebih hidup. Mayoritas gamer Indonesia pakai Steam. Fitur seperti Workshop, Community Hub, dan review pengguna sudah jadi bagian dari ekosistem. Game eksklusif Epic kehilangan semua itu selama masa eksklusif.
Tentu saja, Epic tetap punya keunggulan: potongan developer cuma 12% dibanding Steam 30%, dan game gratis mingguan yang legendaris. Tapi untuk gamer, pilihan selalu lebih baik dari dipaksa.
Ke depan, sepertinya era timed exclusive PC sudah lewat. Publisher belajar bahwa jangkauan luas sejak hari pertama lebih menguntungkan dari jaminan uang di muka yang terbatas. Epic Games Store tetap ada dan tetap bersaing, tapi lewat cara yang lebih sehat: fitur, harga, dan layanan, bukan memaksa gamer ke satu toko.
