Kalau kamu sering baca review game, pernah nggak kepikiran: reviewer main di tingkat kesulitan mana? Normal? Hard? Very Hard? Atau malau Easy biar cepat selesai?
Pertanyaan ini penting karena pengalaman bermain bisa beda drastis tergantung kesulitan yang dipilih. Combat system yang terasa dangkal di Easy bisa jadi sangat memuaskan di Hard. Cerita yang terasa lambat di Normal bisa pas di Very Hard karena kamu harus lebih berhati-hati.
Masalahnya, kebanyakan reviewer memilih kesulitan Normal. Alasannya sederhana: deadline ketat. Publisher kasih waktu 3-5 hari untuk game AAA 40 jam, jadi mereka nggak punya waktu застрять di boss yang sama berjam-jam. Pilihan rasional, tapi kadang membuat penilaian meleset.
Kenapa Kesulitan yang Dipilih Itu Penting
Beberapa game memang didesain untuk dimainkan di kesulitan tinggi. Doom Eternal contohnya. Di difficulty Normal, kamu bisa main santai pakai senjata favorit terus. Tapi developer bilang game ini baru terasa “lengkap” di Ultra-Nightmare, di mana kamu dipaksa pakai semua senjata, semua mod, kelola ammo ketat, dan dance pattern musuh jadi krusial.
Reviewer yang main di Normal mungkin nulis “combat terasa repetitif” padahal di Hard justru combat jadi puzzle cepat yang menuntut strategi. Skor bisa beda jauh karena mereka nggak lihat sistem penuh.
Hugo Martin, creative director Doom Eternal, pernah bilang dalam wawancara bahwa game ini didesain supaya pemain “merasa seperti komposer yang mengarang musik dari violence”. Tapi musik itu baru kedengeran kalau kamu main di difficulty yang memaksa pakai semua alat.
Sekiro contoh lain. Game ini nggak punya difficulty slider, tapi punya charm yang bikin damage lebih gede atau parry window lebih lebar. Beberapa reviewer pakai charm ini lalu komplain “terlalu mudah jadi bosan” padahal charm itu opsional dan ditujukan buat pemain yang benar-benar stuck.
Soulslike vs Game Casual: Standar Berbeda
Bias reviewer juga muncul dari preferensi pribadi. Reviewer yang suka tantangan sering kasih nilai rendah ke game dengan kesulitan rendah, bilang “terlalu mudah, nggak ada depth”. Padahal game itu memang ditargetkan buat casual player yang main buat santai setelah kerja.
Sebaliknya, reviewer yang jarang main game sulit kadang frustasi dengan Soulslike atau roguelike lalu bilang “unfair, terlalu punishing” padahal pemain genre itu justru cari punishment sebagai bagian dari gameplay loop.
Standar “adil” untuk menilai kesulitan itu relatif. Game harus dinilai dari seberapa baik ia capai target audiensnya, bukan dari selera pribadi reviewer.
Assist Mode Modern: Spektrum Jadi Lebih Lebar
Kabar baiknya, banyak game modern kasih opsi assist mode yang sangat fleksibel. The Last of Us Part II contohnya punya puluhan toggle: slow motion saat aim, highlight musuh lewat dinding, auto-pickup item, bahkan skip puzzle.
Celeste punya Assist Mode yang bisa turunkan kecepatan game, kasih dash unlimited, atau bikin karakter invincible. Developer bilang “ini game kamu, main sesuka hati” dan nggak ada achievement yang dikunci.
Ini bikin review lebih rumit. Apakah reviewer harus coba semua kombinasi assist? Tentu nggak realistis. Tapi setidaknya mereka harus sebut di review mereka main pakai setting apa, biar pembaca punya konteks.
Cara Baca Review dengan Konteks Kesulitan
Kalau kamu mau beli game berdasarkan review, coba cek hal ini:
Cek apakah reviewer sebut difficulty yang dimainkan. Review yang jujur biasanya tulis di awal atau akhir: “kami main di Hard difficulty untuk review ini” atau “kami coba Normal dulu lalu replay beberapa misi di Very Hard”. Kalau nggak disebutkan sama sekali, asumsikan mereka main di Normal.
Baca keluhan tentang kesulitan dengan hati-hati. Kalau reviewer bilang “terlalu mudah”, cek apakah mereka coba difficulty lebih tinggi. Kalau bilang “terlalu susah”, cek apakah ada assist mode yang mereka skip. Kadang keluhan lebih soal preferensi pribadi daripada desain game yang jelek.
Bandingkan beberapa sumber. Outlet beda punya kebijakan beda. IGN sering main di Normal, Polygon kadang pakai assist mode dan transparan soal itu, GameSpot kadang punya dua reviewer buat perspektif berbeda. Baca 3-4 review dari outlet berbeda biar dapat gambaran lebih utuh.
Perhatikan genre game. Soulslike, roguelike, dan strategy game biasanya direview oleh orang yang terbiasa dengan genre dan main di difficulty intended. Tapi game action mainstream kadang direview cepat di Normal karena deadline. Tahu genre membantu prediksi bias.
Kesimpulan
Difficulty setting bukan detail kecil. Ini bisa ubah pengalaman bermain secara fundamental dan tentu saja mempengaruhi skor review. Combat yang reviewer bilang “membosankan” di Normal bisa jadi yang kamu cari di Hard. Atau sebaliknya, kesulitan yang reviewer puji bisa jadi frustasi buat kamu.
Review tetap berguna sebagai titik awal, tapi jangan langsung percaya skor angka. Baca isi review, cari tahu mereka main di difficulty mana, dan pikir apakah profil pemain mereka mirip dengan kamu. Kamu reviewer terbaik untuk seleramu sendiri.
[youtube https://www.youtube.com/watch?v=gqzkc4bFZcs]

