Difficulty dalam Review Game: Kenapa Tingkat Kesulitan yang Dimainkan Penting Disebutkan

Game reviewer sering lupa menyebutkan satu detail penting: mereka main di tingkat kesulitan mana. Padahal pilihan difficulty bisa mengubah pengalaman bermain secara drastis.

Kamu pasti pernah baca review yang bilang game terlalu mudah atau terlalu susah. Tapi coba pikir lagi, di difficulty mana mereka bermain? Normal? Easy? Hard? Hampir tak pernah disebutkan. Ini masalah besar karena game modern punya rentang kesulitan yang luas, dari Story Mode sampai Nightmare.

Kenapa Difficulty yang Dimainkan Itu Penting

Pilihan difficulty bukan cuma soal berapa banyak HP musuh. Beberapa game mengubah pacing, mekanik, dan bahkan cerita berdasar tingkat kesulitan. Souls-like yang dimainkan di Easy bisa kehilangan seluruh identitasnya, sementara game casual di Hard bisa bikin frustrasi berlebihan.

Reviewer yang main Elden Ring pakai summon Spirit Ash dan NPC cooperator akan punya pengalaman sangat berbeda dari yang solo tanpa bantuan. Kedua cara itu sah, tapi konteksnya wajib disebutkan. Bayangkan kamu beli game karena review bilang “balance pertarungan sempurna”, terus ternyata reviewer pakai segala fitur bantuan yang ada.

Game strategi seperti XCOM atau Civilization punya rentang kesulitan yang mengubah AI musuh total. Bermain di Settler vs Deity itu dua pengalaman yang hampir tak bisa dibandingkan. Review yang bilang “AI bodoh” di tingkat rendah jelas menyesatkan.

Transparansi yang Jarang Ada

Kebanyakan reviewer diam-diam pakai difficulty Normal atau Default karena asumsi itu yang dimaksud developer. Asumsi ini sering meleset. Beberapa game sengaja bikin Normal terlalu mudah supaya pemain merasa jagoan, sementara yang lain bikin Normal sebagai tantangan serius.

The Last of Us Part II punya spektrum difficulty dari Very Light sampai Grounded, plus opsi aksesibilitas terpisah. Bermain di Very Light dengan aim assist maksimal vs Grounded tanpa UI itu pengalaman yang tak ada hubungannya. Skor 9/10 di difficulty mana? Pertanyaan ini jarang dijawab.

https://www.youtube.com/watch?v=rjCzDd9QUYA

Celeste punya Assist Mode yang bisa turunkan kecepatan game, beri dash tak terbatas, dan bahkan invincibility. Game ini tetap brilian di mode apapun, tapi pengalaman menang setelah ratusan kali mati sangat berbeda dari menang dengan bantuan penuh.

Sekiro sempat jadi kontroversi besar soal ini. Banyak review komplain terlalu susah, tapi FromSoftware memang sengaja bikin satu tingkat kesulitan untuk semua orang. Beberapa kritikus minta easy mode, yang lain bilang kesulitan itu bagian dari identitas game. Perdebatan ini bisa dihindari kalau semua jujur soal skill level dan ekspektasi mereka.

Masalah di Kedua Sisi

Reviewer yang main di Easy sering dikritik “tidak serius”. Tapi deadline review itu nyata. Game open-world 80 jam harus dituntaskan dalam seminggu. Pilihan Easy biar cepat tamat itu manusiawi, tapi harus jujur disebutkan.

Sisi lain, reviewer yang sengaja main di Hard untuk “pengalaman penuh” kadang malah bikin penilaian terdistorsi. Frustrasi karena difficulty spike bisa ditulis sebagai “desain buruk”, padahal di Normal balancenya bagus.

God of War Ragnarok punya mode Give Me God of War yang brutal sejak awal. Review yang main di mode ini lalu komplain game terlalu susah ya wajar, tapi itu bukan pengalaman mayoritas pemain. Mode itu memang untuk veteran yang cari tantangan ekstrem.

Ada juga masalah sebaliknya. Game yang dirancang untuk dimainkan di Hard atau Above bisa terasa hambar di Normal. Devil May Cry dan Bayonetta paling seru di tingkat kesulitan tinggi karena memaksa pakai semua mekanik. Review di Normal bisa bilang “combat dangkal” padahal sebenarnya mereka belum lihat kedalaman sistem pertarungannya.

Cara Baca Review dengan Sadar Difficulty

Cek apakah review menyebutkan difficulty yang dimainkan. Kalau tidak disebutkan, asumsikan Normal atau Default. Tapi ingat, Normal satu game bisa beda jauh dari Normal game lain.

Bandingkan beberapa review. Kalau satu bilang terlalu mudah dan lain bilang terlalu susah, kemungkinan mereka main di tingkat berbeda atau punya ekspektasi berbeda. Baca isi review, bukan cuma skor. Keluhan “musuh damage berlebihan” bisa jadi valid di Normal atau cuma whining karena main di Hard tanpa persiapan.

Cek komunitas seperti Reddit atau forum game. Pemain biasa sering lebih jujur soal difficulty yang cocok untuk pemula vs veteran. Streamer juga bagus untuk melihat gameplay di berbagai difficulty sebelum beli.

Jangan anggap difficulty sebagai tombol ajaib. Game yang balance buruk tetap buruk di semua tingkat. Tapi game yang bagus di satu difficulty bisa jadi membosankan atau frustasi di difficulty lain.

Konteks itu penting, dan reviewer yang baik selalu menyebutkannya. Kalau kamu baca review tanpa info difficulty, tanya langsung di kolom komentar atau cari review lain yang lebih transparan. Pengalaman bermainmu akan sangat berbeda tergantung pilihan kesulitan, jadi pastikan kamu tahu reviewer bermain seperti apa sebelum percaya penuh pada skornya.