Kamu pernah baca review game yang bilang “terlalu mudah” sementara kamu sendiri stuck di boss yang sama selama berjam-jam? Atau sebaliknya, reviewer bilang “balanced” padahal kamu merasa game terlalu kejam? Ternyata, tingkat kesulitan yang dipilih reviewer saat main bisa mengubah penilaian mereka terhadap game yang sama.
Kebanyakan review game tidak pernah menyebutkan difficulty mana yang mereka pilih. Padahal, pengalaman bermain di Easy, Normal, atau Hard bisa serasa main game berbeda. Kalau reviewer main di Normal tapi kamu main di Hard, wajar kalau kesimpulan kalian beda jauh.
Game dirancang untuk satu difficulty tertentu
Sebagian game dirancang dengan satu tingkat kesulitan spesifik sebagai “intended experience” yang dimaksud developer. Contohnya, Resident Evil 4 versi original didesain untuk Standard difficulty. Kalau kamu main di Easy, amunisi berlimpah dan musuh lemah. Pengalaman survival horror-nya hilang, diganti jadi action shooter santai.
Game lain seperti God of War (2018) punya mode Give Me God of War yang mengubah mekanik musuh secara fundamental. Musuh bisa cancel animasi dan langsung serang balik. Ini bukan cuma lebih sulit, tapi jadi game yang beda. Reviewer yang main di mode ini akan punya opini berbeda soal combat depth dibanding yang main di Normal.
Masalahnya, hampir tidak ada standar industri soal difficulty mana yang “harus” dimainkan reviewer. Sebagian outlet main di Normal sebagai default. Sebagian lain menyesuaikan dengan tipe game. Game souls-like seperti Elden Ring cuma punya satu difficulty, jadi tidak ada pilihan. Tapi untuk game dengan lima tingkat kesulitan, keputusan ini jadi rumit.
Bias reviewer terhadap challenge
Reviewer yang terbiasa main game hardcore cenderung memilih difficulty tinggi. Mereka mungkin merasa Normal terlalu mudah dan membosankan. Review mereka bisa terdengar negatif karena “tidak ada tantangan” padahal mayoritas pemain santai akan merasa Normal sudah pas.
Sebaliknya, reviewer dengan waktu terbatas karena deadline ketat sering pilih Easy atau Normal biar cepat tamat. Mereka mungkin melewatkan mekanik combat yang baru terlihat kompleks di difficulty tinggi. Review mereka fokus ke cerita dan presentasi, bukan kedalaman sistem tempur.
Bias ini jarang disadari atau disebutkan. Kamu baca review yang bilang “combat shallow” tanpa tahu kalau reviewer main di Easy mode di mana semua mekanik advanced tidak pernah dipaksa dipakai. Atau kamu baca “frustrasi tidak adil” dari reviewer yang main di Hardest mode padahal developer bilang mode itu untuk “players who want to suffer.”
Tingkat kesulitan yang dimainkan reviewer bisa mengubah penilaian fundamental terhadap game design, balance, dan pacing.
Transparansi yang masih jarang
Sangat sedikit review yang secara eksplisit menyebut difficulty yang dimainkan. IGN kadang menyebutnya di bagian metodologi. Eurogamer dan Polygon lebih sering transparan. Tapi mayoritas review tidak bilang apa-apa, sehingga pembaca harus menebak dari konteks.
Beberapa reviewer bahkan ganti difficulty di tengah jalan. Mulai di Hard, turun ke Normal setelah stuck, lalu naik lagi di akhir. Pengalaman mereka jadi campuran yang sulit diterjemahkan ke skor tunggal.
Game modern makin rumit dengan difficulty yang bisa disesuaikan per aspek. The Last of Us Part II punya puluhan opsi terpisah untuk combat, stealth, puzzle, dan navigasi. Dua reviewer bisa sama-sama main di “Custom” tapi punya pengalaman berbeda tergantung kombinasi yang dipilih.
Cara baca review dengan konteks difficulty
Pertama, cari tahu apakah review menyebutkan difficulty yang dimainkan. Kalau tidak disebutkan, asumsikan mereka main di Normal atau Default. Ini aman untuk mayoritas kasus tapi tidak selalu akurat.
Kedua, perhatikan kata-kata yang mengindikasikan difficulty. Kalau reviewer bilang “mudah” atau “tidak ada tantangan,” kemungkinan mereka main di difficulty rendah atau mereka pemain yang sangat berpengalaman di genre itu. Kalau bilang “frustrasi” atau “unfair,” cek apakah mereka main di difficulty tinggi atau memang game-nya bermasalah.
Ketiga, baca beberapa review dari outlet berbeda. Bandingkan apakah keluhan atau pujian soal difficulty konsisten. Kalau satu review bilang terlalu mudah dan satu lagi bilang terlalu sulit, kemungkinan mereka main di difficulty berbeda atau punya skill level berbeda.
Keempat, cek review dari pemain di Steam atau Metacritic user score. Mereka sering lebih transparan soal difficulty yang dimainkan. Kamu bisa filter review berdasarkan jam bermain dan difficulty untuk dapat gambaran lebih spesifik.
Terakhir, sadari bahwa difficulty yang tepat buat reviewer belum tentu tepat buat kamu. Kalau kamu pemain kasual yang main buat cerita, review dari hardcore gamer yang complain “too easy on Normal” mungkin tidak relevan. Begitu juga sebaliknya.
Solusi ideal yang jarang terjadi
Idealnya, review game dengan banyak difficulty option harus menyebutkan secara eksplisit mode mana yang dimainkan. Lebih baik lagi kalau reviewer mencoba beberapa difficulty dan menjelaskan perbedaan signifikan antar mode.
Beberapa outlet besar mulai adopsi standar ini. Digital Foundry selalu sebutkan difficulty saat bahas game performance. Easy Allies sering mention di review video. Tapi ini belum jadi standar universal.
Developer juga bisa bantu dengan labeling yang lebih jelas. Alih-alih “Easy, Normal, Hard,” gunakan deskripsi seperti “Story Focus,” “Balanced Experience,” atau “Combat Challenge.” Celeste melakukan ini dengan sempurna lewat Assist Mode yang dijelaskan tanpa judgmental language.
Pada akhirnya, kamu adalah reviewer terbaik untuk dirimu sendiri. Bacalah review sebagai satu sumber informasi, bukan vonis mutlak. Kalau ada demo atau trial, coba sendiri di difficulty yang kamu rasa nyaman. Jangan biarkan opini orang lain soal “intended difficulty” menghalangi kamu menikmati game dengan caramu.

