Karir pemain esports profesional bisa berakhir bukan karena skill turun atau tim memecatnya. Sebaliknya, banyak yang harus mundur karena tangan mereka rusak duluan. Cedera fisik pemain esports seperti carpal tunnel syndrome dan RSI (Repetitive Strain Injury) adalah ancaman nyata yang sering diabaikan sampai terlambat.
Bayangkan sudah latihan 12 jam sehari selama bertahun-tahun, akhirnya sampai di puncak karir, lalu pergelangan tangan mulai terasa nyeri setiap kali pegang mouse. Sayangnya, itulah kenyataan yang dialami banyak pemain pro. Padahal, pencegahan sederhana sejak awal bisa menghindari nasib ini.
Jenis cedera fisik paling umum di esports
Pertama-tama, carpal tunnel syndrome adalah raja cedera di dunia kompetitif. Saraf median di pergelangan tangan tertekan karena gerakan repetitif ribuan kali per hari. Akibatnya, muncul gejala kesemutan, mati rasa, hingga nyeri menusuk dari tangan sampai lengan. Kalau dibiarkan terus-menerus, kondisi ini bisa butuh operasi untuk diperbaiki.
Selain itu, RSI atau cedera regangan berulang juga sering muncul. Berbeda dengan carpal tunnel, RSI lebih luas cakupannya karena bisa kena bahu, siku, atau bahkan leher. Pada dasarnya, gerakan mikro yang sama terus-menerus membuat tendon dan otot meradang. Oleh karena itu, pemain yang latihan tanpa istirahat cukup paling rentan kena RSI.
Selanjutnya, tendonitis pergelangan tangan umum pada pemain FPS yang main dengan sensitivitas rendah. Mouse harus digerakkan jauh dan cepat, sehingga tendon bekerja keras tanpa istirahat. Di sisi lain, pemain MOBA juga kena risiko tinggi karena spam klik ribuan kali per match. Dengan kata lain, semua genre game kompetitif punya risiko cedera sendiri.
Terakhir, nyeri punggung dan leher kronis muncul dari duduk berjam-jam dengan postur buruk. Kepala condong ke depan menatap layar, sementara bahu membungkuk, jadi tulang belakang menderita. Yang lebih berbahaya, masalahnya tidak langsung terasa parah, sehingga sering diabaikan sampai jadi kronis. Padahal, kerusakan postur bisa permanen kalau tidak ditangani dini.
Kasus nyata pemain pro yang dipaksa mundur
Pertama, Hai, jungler legendaris League of Legends dari tim WE China, harus operasi pergelangan tangan 2015 karena cedera parah. Dia sempat comeback tapi performanya tidak pernah sama lagi. Kemudian, Uzi, ADC terbaik LPL, retire 2020 di usia 23 tahun sebagian karena masalah diabetes tapi juga cedera tangan kronis yang memburuk setiap tahun.
Lebih parah lagi, Hax$, pemain Super Smash Bros. Melee top-level, mengalami RSI ekstrem di kedua tangannya sampai tidak bisa main kompetitif bertahun-tahun. Dia harus pakai controller khusus dan physical therapy intensif hanya untuk bisa pegang controller lagi. Akibatnya, karirnya mandek di masa prime karena cedera yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal.
Sayangnya, kasus-kasus ini bukan outlier. Survey informal di komunitas pemain pro menunjukkan mayoritas pernah atau sedang mengalami nyeri tangan atau pergelangan tangan. Bahkan, banyak yang main sambil pakai wrist brace atau minum obat anti-inflamasi rutin. Namun, sebagian besar hanya lapor setelah sudah parah karena takut dianggap lemah atau kehilangan posisi di roster. Padahal, deteksi dini bisa selamatkan karir mereka.
Pencegahan cedera fisik pemain esports
Pertama dan paling sederhana, peregangan tangan dan pergelangan tangan sebelum dan sesudah latihan adalah yang paling efektif tapi sering dilupakan. Misalnya, gerakan sederhana seperti membuka-tutup kepalan tangan, memutar pergelangan, hingga meregangkan jari bisa kurangi risiko besar. Oleh karena itu, jadikan ini bagian dari rutinitas harian.
Selanjutnya, istirahat berkala itu wajib, bukan opsional. Aturan 20-20-20 berlaku: tiap 20 menit, istirahat 20 detik, lalu lihat sesuatu sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter). Lebih baik lagi, istirahat 5-10 menit tiap jam untuk berdiri, jalan, dan gerakkan badan. Dengan demikian, otot dan tendon punya waktu pulih sebelum kembali ke layar.
Selain itu, ergonomi setup gaming menentukan kesehatan jangka panjang. Kursi harus dukung punggung, tinggi meja sejajar siku, sementara pergelangan tangan tidak bengkok saat pegang mouse atau keyboard. Tambahan lagi, mouse dengan bentuk ergonomis dan ukuran pas tangan bisa kurangi strain signifikan. Jadi, investasi di peralatan ergonomis bukan buang-buang uang tapi proteksi karir.
Kalau sudah mulai terasa nyeri, physical therapy profesional perlu dipertimbangkan serius. Jangan tunggu sampai parah seperti kasus Hax$ yang butuh bertahun-tahun pulih. Terapis bisa kasih latihan spesifik untuk perkuat otot dan perbaiki postur. Bahkan, beberapa organisasi esports besar sekarang sudah sediakan akses ke fisioterapis dan dokter olahraga. Oleh karena itu, manfaatkan fasilitas yang ada atau cari sendiri kalau organisasi belum menyediakan.
Yang paling penting, dengarkan tubuh sendiri. Nyeri adalah sinyal bahaya yang tidak boleh diabaikan. Main terus sambil nahan sakit hanya akan bikin cedera fisik pemain esports jadi permanen dan mengakhiri karir. Memang, karir esports rata-rata pendek, tapi tidak perlu dipersingkat lagi karena cedera yang bisa dicegah. Dengan kata lain, kesehatan jangka panjang lebih berharga dari trofi jangka pendek.
“Tangan adalah aset paling berharga pemain esports. Kalau rusak, skill dan pengalaman tidak ada artinya.” – Anonymous pro player
Pada akhirnya, organisasi esports dan pemain sendiri perlu ambil cedera fisik pemain esports lebih serius. Ini bukan cuma soal performa jangka pendek, melainkan kesehatan seumur hidup. Pemain yang retire di usia 20-an masih punya puluhan tahun hidup dengan tangan yang rusak kalau tidak dijaga dari sekarang. Oleh karena itu, investasi di pencegahan hari ini akan menghemat penderitaan bertahun-tahun kemudian.
[youtube]https://www.youtube.com/watch?v=EiRC80FJbHU[/youtube]

