Seorang reviewer terkenal kasih skor rendah ke game strategi turn-based. Di kolom komentar, ratusan pemain protes: “Dia dari awal bilang nggak suka genre ini, kenapa situs kasih tugas review ke dia?”
Pertanyaan ini muncul terus di industri game journalism. Apakah reviewer bisa objektif menilai game dari genre yang bukan selera mereka? Atau setiap skor selalu terkontaminasi bias pribadi?
Selera Pribadi Itu Nggak Bisa Dihapus
Kenyataan pahitnya: objektivitas penuh dalam review game itu mitos. Reviewer bukan robot. Kalau kamu nggak suka horror psikologis yang lambat, kamu bakal kesulitan menikmati game kayak Silent Hill 2 remake meski secara teknis game itu sempurna. Kalau kamu benci grinding, JRPG 80 jam bakal terasa seperti siksaan.
Sebagian besar situs game journalism mengakui ini. Polygon dan Eurogamer sering taruh disclaimer di awal review: “Reviewer ini penggemar berat genre roguelike” atau “Ini game pertama dari genre ini yang dimainkan reviewer.” Transparansi seperti ini jujur, tapi tetap nggak sepenuhnya mengatasi masalah.
Masalahnya bukan reviewer ngaku suka atau nggak. Masalahnya adalah pembaca sering cuma lihat angka skor tanpa baca konteks. Skor 6/10 dari orang yang benci MOBA dan skor 6/10 dari veteran Dota 2 punya arti sangat berbeda, tapi di Metacritic keduanya dihitung sama.
Haruskah Situs Pilih Reviewer Sesuai Genre?
Solusi paling jelas: kasih game ke reviewer yang memang suka genre itu. IGN dan GameSpot umumnya pakai pendekatan ini. Game racing ke editor yang hobi sim racing, RPG Jepang ke yang paham anime culture.
Tapi pendekatan ini punya lubang. Pertama, bias positif sama berbahayanya dengan bias negatif. Reviewer yang terlalu cinta sama genre bisa jadi terlalu permisif, kasih nilai tinggi ke game biasa-biasa saja karena “setidaknya ini bukan gacha.” Penggemar berat franchise kadang nggak bisa objektif lihat kelemahan game favorit mereka.
Kedua, nggak semua situs punya luxury tim besar. Outlet kecil atau indie site kadang cuma punya 2-3 reviewer tetap. Kalau ada embargo review besok pagi dan cuma ada satu orang yang available, mau nggak mau dia yang turun meski genrenya di luar zona nyaman.
> Kadang justru reviewer dari luar genre kasih perspektif segar. Kalau veteran RTS bilang “tutorial ini terlalu lambat,” mungkin mereka benar, tapi pemain baru justru bilang tutorial itu sempurna.
Cara Baca Review Tanpa Terjebak Bias
Sebagai pembaca, kamu bisa lindungi diri dari bias reviewer dengan beberapa kebiasaan sederhana.
Jangan baca cuma satu review. Kalau kamu serius mau beli game seharga 60 dolar, luangkan 15 menit baca tiga review dari situs berbeda. Kalau satu situs kasih 6/10 tapi dua lainnya kasih 9/10, kamu bisa lihat pola: mungkin reviewer pertama punya preferensi yang beda dari mayoritas.
Cari reviewer yang share selera kamu. Ini jauh lebih berguna dari cari situs “paling objektif.” Kalau kamu suka game open world santai kayak Breath of the Wild, cari reviewer yang juga suka itu. Setelah beberapa bulan, kamu bakal tahu reviewer mana yang paling align dengan selera kamu.
Baca isi review, bukan cuma skor. Angka itu shortcut, tapi paragraf di dalamnya kasih konteks. Review yang kasih skor 7/10 sambil bilang “combat-nya fenomenal tapi story-nya lemah” kasih informasi jauh lebih berguna dari skor 8/10 tanpa penjelasan.
Manfaatkan user review, tapi hati-hati. Steam reviews dari pemain dengan 100+ jam playtime sering lebih jujur dari review hari pertama. Tapi ingat user review juga punya bias, kadang lebih parah dari journalist: review bombing, fanboy wars, atau ekspektasi nggak realistis.
Review game nggak pernah sepenuhnya objektif, dan itu nggak masalah. Yang penting adalah transparansi dari reviewer dan literasi dari pembaca. Selama reviewer jujur soal preferensi mereka dan pembaca nggak cuma percaya satu sumber, sistem ini masih bisa jalan.
Bias itu manusiawi. Tugas kita bukan menghapusnya, tapi belajar membacanya.

