Aksesibilitas dalam Review Game: Kriteria yang Sering Terlupakan

Kenapa aksesibilitas dalam review game sering terlupakan dan fitur apa yang layak dinilai agar semua pemain bisa menikmati game.

Beberapa tahun lalu, saya membaca review sebuah game aksi yang skornya nyaris sempurna. Reviewernya memuji grafis, cerita, sampai musiknya. Namun, tidak satu kalimat pun menyebut apakah teman saya yang buta warna bisa membedakan musuh dari kawan di layar. Sejak itu, saya mulai bertanya-tanya soal aksesibilitas dalam review game: kenapa aspek sepenting ini justru paling sering dilewati?

Faktanya, aksesibilitas bukan fitur tambahan yang cuma dipakai segelintir orang. Sebaliknya, ini soal apakah jutaan pemain dengan keterbatasan penglihatan, pendengaran, atau gerak tangan bisa ikut menikmati game yang sama seperti kita. Oleh karena itu, saya rasa sudah waktunya kita memperlakukannya sebagai bagian wajib dari penilaian, bukan catatan kaki.

Kenapa Aksesibilitas dalam Review Game Sering Terlupakan

Pertama, banyak reviewer memang tidak punya kebutuhan aksesibilitas sendiri. Karena itu, mereka jarang membuka menu opsi yang mengatur ukuran teks, mode kontras tinggi, atau remap tombol. Akibatnya, fitur-fitur itu terlewat begitu saja saat menilai game.

Selanjutnya, tenggat review yang pendek juga jadi masalah. Reviewer biasanya dikejar waktu untuk menamatkan game dan menulis kesan sebelum embargo dibuka. Sebagai akibatnya, mereka fokus ke hal yang paling terlihat seperti grafis dan cerita, lalu mengabaikan menu setting yang terasa “membosankan”.

Namun, ada juga alasan yang lebih mendasar. Sebagian orang masih menganggap aksesibilitas sebagai urusan segelintir pemain saja. Padahal, sekitar 8 persen pria mengalami buta warna, dan itu belum menghitung pemain dengan gangguan pendengaran atau motorik. Dengan demikian, angka pemain yang terpengaruh jauh lebih besar dari yang kita kira.

Fitur yang Layak Dinilai Saat Membaca Aksesibilitas dalam Review Game

Sebagai contoh, kita bisa mulai dari opsi visual. Mode buta warna dengan penanda tambahan, ukuran teks yang bisa diperbesar, dan mode kontras tinggi adalah dasar yang seharusnya ada di setiap game modern. Selain itu, subtitle yang lengkap dengan nama pembicara sangat membantu pemain tuli dan sulit mendengar.

Kemudian, ada aspek kontrol. Remap tombol penuh, opsi tahan-vs-toggle, dan dukungan perangkat seperti Xbox Adaptive Controller seharga sekitar 100 dolar membuka pintu bagi pemain dengan keterbatasan gerak tangan. Sebaliknya, game yang memaksa timing presisi tanpa alternatif justru menutup pintu itu rapat-rapat.

Fitur yang dirancang untuk satu disabilitas sering berakhir membantu semua orang. Subtitle besar berguna saat ruangan berisik, dan remap tombol nyaman buat siapa saja yang tangannya cepat lelah.

The Last of Us Part II sering dijadikan patokan karena punya lebih dari 60 opsi aksesibilitas, termasuk pembaca layar yang bikin pemain buta bisa menamatkan game dari awal sampai akhir. Karena itu, situs khusus seperti Can I Play That dan Access-Ability hadir untuk menilai sisi yang sering dilewati review arus utama. Sebagai gambaran, video berikut membahas perjuangan panjang di balik aksesibilitas game.

Menariknya, aksesibilitas juga sudah masuk ranah hukum. 21st Century Communications and Video Accessibility Act di Amerika, yang diperbarui tahun 2019, mewajibkan opsi komunikasi tertentu tersedia. Oleh karena itu, dorongan untuk fitur inklusif tidak lagi sekadar niat baik developer, melainkan standar yang perlahan jadi keharusan. Kamu bisa membaca latar belakangnya lebih dalam di halaman Wikipedia soal game accessibility.

Penutup: Menjadikan Aksesibilitas dalam Review Game Sebagai Standar

Singkatnya, menilai aksesibilitas tidak menuntut reviewer jadi ahli disabilitas. Sebaliknya, cukup luangkan waktu membuka menu opsi, catat fitur yang ada dan yang absen, lalu sebutkan di dalam review. Dengan begitu, pembaca punya gambaran utuh sebelum membeli.

Sebagai pembaca, kamu juga bisa lebih cerdas. Misalnya, cek apakah review menyinggung subtitle, remap tombol, atau mode buta warna. Selain itu, situs review khusus aksesibilitas layak dikunjungi kalau kamu atau teman punya kebutuhan tertentu. Untuk sudut pandang lain soal cara membaca skor, kamu bisa lihat ulasan kami di menilai game indie vs AAA.

Pada akhirnya, game yang bagus adalah game yang bisa dimainkan sebanyak mungkin orang. Karena itu, saya yakin aksesibilitas pantas duduk sejajar dengan grafis dan gameplay dalam setiap penilaian. Semoga makin banyak reviewer yang sepakat, supaya tidak ada lagi pemain yang tertinggal cuma karena satu menu setting terlupakan.