Dulu, jalan-jalan ke mal buat lihat rak game baru itu ritual sendiri buat saya. Ada bau plastik dari kotak game yang masih disegel, ada obrolan sama penjaga toko soal game apa yang lagi bagus. Sekarang kabar bahwa toko game fisik tutup satu per satu terasa seperti kehilangan tempat nongkrong lama. Di Inggris, GAME, salah satu toko game paling ikonik, resmi angkat kaki dari jalanan setelah puluhan tahun jualan konsol dan kaset.
Awalnya saya kira ini cuma berita bisnis biasa. Namun makin dibaca, makin terasa ini soal cara kita membeli game yang berubah total dalam satu dekade terakhir.
Kenapa Toko Game Fisik Tutup Massal
Faktanya, GAME jatuh ke administrasi (semacam status bangkrut terkendali) dengan utang hampir 16 juta pound sterling. Menurut laporan administrator, sekitar 12 juta pound di antaranya berupa utang ke kreditur tanpa jaminan yang kemungkinan besar tidak akan kembali penuh.
Selanjutnya, tiga toko mandiri terakhir mereka di Dudley, Lancaster, dan Sutton ikut tutup. Sisa kehadiran GAME sekarang cuma berupa gerai kecil menempel di toko Sports Direct dan House of Fraser. Menariknya, ini bukan kali pertama. GAME sempat bangkrut juga tahun 2012 sebelum diselamatkan.
Namun kali ini situasinya beda. Awalnya penjualan game bergeser dari kaset dan cakram ke unduhan digital, lalu persaingan makin ketat dari toko online, ditambah ketidakpastian ekonomi setelah Brexit. Singkatnya, model toko fisik yang dulu jadi tulang punggung industri game perlahan kehilangan alasan untuk ada.
Kami harus realistis. Ada bisnis yang harus dijalankan, dan ekspektasinya penjualan game fisik akan terus menurun.
Pergeseran ke Digital yang Mengubah Segalanya
Sebagai contoh, coba ingat kapan terakhir kamu beli game dalam bentuk cakram. Buat banyak orang, jawabannya mungkin sudah bertahun-tahun lalu. Karena itu, toko seperti GAME kehilangan pembeli utamanya secara bertahap tanpa banyak yang sadar.
Selanjutnya, mereka mencoba bertahan dengan berjualan mainan, merchandise, dan pernak-pernik lain. Namun itu tidak cukup menutup lubang yang ditinggalkan penjualan game. Faktanya, GAME juga sempat menutup bisnis game bekas, skema Xbox All Access, dan pre-order di toko pada tahun sebelumnya.
Oleh karena itu, hilangnya toko fisik bukan sekadar soal nostalgia. Ada dampak nyata: pasar game bekas menyempit, tempat tukar-tambah konsol berkurang, dan pilihan buat orang yang koneksi internetnya terbatas jadi makin sedikit. Sebaliknya, buat penerbit game, model digital jauh lebih menguntungkan karena tidak perlu ongkos cetak dan distribusi fisik.
Menariknya, tren ini juga terasa di tempat lain. Di Amerika, GameStop terus menutup gerai, dan di banyak negara toko game fisik makin sulit ditemui. Buat konteks, kamu bisa baca sejarah lengkap GAME di halaman Wikipedia resminya.
Apa Artinya Buat Gamer Indonesia
Pertama, buat sebagian gamer Indonesia, toko game fisik masih punya tempat spesial. Beli cakram PlayStation di mal, tukar game lama, atau sekadar lihat-lihat, itu pengalaman yang belum sepenuhnya tergantikan toko digital.
Namun tren globalnya jelas mengarah ke digital. Selanjutnya, pertanyaannya bukan apakah toko fisik akan menyusut, melainkan seberapa cepat. Karena itu, isu kepemilikan game digital jadi makin penting, mirip yang sudah kita bahas soal game digital yang cuma berupa lisensi.
Sebagai penutup, runtuhnya GAME adalah pengingat bahwa cara kita membeli game sudah berubah permanen. Kalau toko game fisik tutup terus terjadi, mungkin generasi berikutnya tidak akan pernah tahu rasanya membuka segel kotak game baru. Buat saya pribadi, itu terasa sedikit menyedihkan, walaupun saya sendiri sekarang lebih sering beli game lewat unduhan.

