Beberapa hari lalu saya baca dua review di hari yang sama. Satu game indie buatan tiga orang dapat nilai 9. Satu game AAA dengan ratusan staf dan anggaran gila-gilaan dapat 7. Komentar langsung panas. Ada yang bilang skor itu tidak adil, ada yang bilang justru itulah gunanya review. Momen kecil itu bikin saya kepikiran soal menilai game indie vs AAA pakai skala nilai yang sama. Apakah benar-benar setara?
Pertama, kita harus jujur soal satu hal. Angka 8 di game indie dan angka 8 di game AAA sering tidak berarti hal yang sama. Namun keduanya ditaruh di rak yang sama, di skala yang sama, seolah bisa dibandingkan langsung. Di situlah masalahnya mulai.
Kenapa menilai game indie vs AAA jadi rumit
Awalnya kelihatan sederhana. Kalau game bagus, kasih nilai tinggi. Kalau jelek, kasih rendah. Namun konteks di balik dua jenis game ini jauh berbeda. Game indie biasanya lahir dari tim kecil dengan uang terbatas dan waktu mepet. Sementara itu, game AAA punya anggaran puluhan juta dolar, tim marketing, dan ekspektasi penjualan yang tinggi.
Karena itu, standar yang wajar juga bergeser. Sebagai contoh, grafis sederhana di game indie sering dianggap gaya artistik, bukan kekurangan. Namun grafis yang sama di game AAA seharga penuh bisa langsung dicap malas. Selanjutnya, bug kecil di game indie kadang dimaafkan sebagai risiko tim kecil. Sebaliknya, bug serupa di rilis besar dianggap dosa yang tak termaafkan.
Faktanya, banyak reviewer memang menilai game berdasarkan ambisinya sendiri, bukan patokan tunggal. Sebuah game dinilai dari seberapa baik ia mencapai apa yang ingin ia capai. Oleh karena itu, game indie kecil yang fokus dan rapi bisa terasa lebih utuh ketimbang game AAA besar yang berantakan di mana-mana.
Skor sebuah game bukan janji bahwa ia lebih hebat dari game lain, melainkan seberapa baik ia menepati apa yang ia janjikan sendiri.
Bias indie darling dan kebencian pada game AAA
Selanjutnya ada sisi yang jarang diakui, yaitu bias. Ada istilah “indie darling” untuk game kecil yang dielu-elukan melebihi kualitas sebenarnya. Karena ceritanya inspiratif atau dibuat oleh developer underdog, penilaian jadi lebih lunak. Sebaliknya, game AAA sering kena sinisme otomatis. Perusahaan besar dianggap serakah, jadi apa pun yang mereka rilis dicurigai lebih dulu.
Namun bias ini bekerja dua arah dan tidak selalu terlihat. Sebagai contoh, game AAA dengan produksi mewah kadang dapat nilai tinggi hanya karena terlihat mahal, meski gameplaynya biasa saja. Sementara itu, game indie brilian bisa terlewat begitu saja karena tidak punya budget marketing untuk menarik perhatian reviewer besar.
Oleh karena itu, membaca skor tanpa konteks itu berbahaya. Menurut Wikipedia soal permainan video indie, game indie memang punya kebebasan kreatif yang tidak dimiliki studio besar. Kebebasan itu sisi baiknya, tapi juga membuat perbandingan langsung terasa timpang. Kita seolah membandingkan warung kopi kecil dengan restoran bintang lima memakai daftar penilaian yang sama.
Cara membaca skor review lebih jujur
Jadi, bagaimana kita menyikapinya sebagai pemain? Pertama, jangan pernah baca skor tanpa membaca isi reviewnya. Angka cuma ringkasan, sedangkan alasan di baliknya jauh lebih penting. Selanjutnya, perhatikan konteks anggaran dan ambisi game tersebut sebelum menghakimi nilainya.
Kedua, bandingkan game dengan sesamanya, bukan lintas kelas. Sebuah game indie petualangan lebih adil dibandingkan game indie lain, bukan dengan blockbuster open world. Selain itu, cek beberapa sumber sekaligus. Kalau kamu penasaran soal cara membaca skor yang sering menyesatkan, tulisan kami soal inflasi skor review game bisa jadi pelengkap yang bagus.
Singkatnya, menilai game indie vs AAA memang tidak bisa disamakan mentah-mentah. Keduanya main di liga berbeda dengan sumber daya berbeda. Namun bukan berarti skor jadi tidak berguna. Selama kita membacanya dengan konteks, angka itu tetap membantu. Sebagai penutup, perlakukan skor sebagai titik awal diskusi, bukan vonis akhir. Game yang cocok buatmu belum tentu game dengan angka tertinggi.

