Ada satu momen tahun lalu yang bikin saya berhenti scroll. Ribuan pengisi suara game di Amerika Serikat berhenti kerja bukan karena gaji, tapi karena takut suara mereka dipakai selamanya oleh mesin. Mogok pengisi suara game ini berlangsung hampir setahun penuh, dari Juli 2024 sampai Juli 2025, dan buat saya ini salah satu berita industri paling penting yang jarang dibahas gamer Indonesia. Bukan soal karakter favorit ganti suara, tapi soal siapa yang mengendalikan wajah dan suara di balik game yang kita mainkan tiap hari.
Kenapa mogok pengisi suara game ini sampai terjadi
Pemicunya jelas: kecerdasan buatan. Sejak awal 2020-an, teknologi AI generatif makin canggih, dan studio game melihat peluang memangkas biaya dengan mengganti aktor manusia. Bayangkan sebuah studio merekam suara aktor sekali, lalu memakai model AI untuk membuat ribuan baris dialog baru tanpa membayar lagi. Namun bagi aktor, itu artinya suara mereka bisa hidup terus tanpa izin dan tanpa bayaran. Oleh karena itu, serikat pekerja SAG-AFTRA memutuskan mogok pada 26 Juli 2024, melibatkan pengisi suara dan artis motion capture.
Sebagai konteks, sebelumnya SAG-AFTRA sempat menandatangani kesepakatan dengan Replica Studios pada Januari 2024. Perjanjian itu mensyaratkan persetujuan untuk tiap proyek baru, penyimpanan aman model suara, dan transparansi penggunaan. Faktanya, kesepakatan kecil itu belum cukup untuk melindungi seluruh industri. Selanjutnya, ketika negosiasi dengan penerbit besar buntu soal AI, mogok jadi satu-satunya senjata yang tersisa.
Isi kesepakatan dan siapa yang masih berjuang
Setelah tarik ulur panjang, titik terang muncul pada 9 Juni 2025 lewat kesepakatan sementara. Strike lalu ditangguhkan pada 11 Juni, dan anggota meratifikasi perjanjian pada 9 Juli 2025 dengan suara 95 persen setuju. Hasilnya cukup konkret. Pertama, kenaikan gaji tahunan dijamin selama tiga tahun. Selanjutnya, ada aturan main soal AI: studio wajib meminta persetujuan dan memberi tahu ketika memakai replika digital seorang aktor. Dengan demikian, aktor juga bisa mencabut izin pembuatan materi baru selama masa mogok berlangsung.
Kesepakatan ini memasang pengaman AI yang diperlukan untuk membela nafkah para performer di era AI, kata Duncan Crabtree-Ireland, direktur eksekutif serikat.
Meski begitu, ceritanya belum benar-benar selesai. Sebagai contoh, para pengisi suara yang bekerja untuk game HoYoverse seperti Genshin Impact melancarkan aksi terpisah, menuntut hal yang sama plus perjanjian serikat langsung dengan perusahaan. Sebaliknya dari kesan bahwa semua sudah damai, sebagian aktor justru merasa ditinggalkan ketika suara mereka digantikan di tengah aksi. Faktanya, drama pergantian pengisi suara di Honkai: Star Rail dan Genshin Impact jadi bukti bahwa isu ini masih panas.
Kenapa ini penting buat gamer Indonesia
Mungkin terasa jauh, tapi dampaknya nyata. Game yang kita mainkan kebanyakan diproduksi studio yang terikat aturan ini, jadi standar soal AI dan hak aktor akan ikut membentuk kualitas dialog dan akting di masa depan. Sebagai contoh, kalau perlindungan lemah, kita bisa dapat game dengan suara AI yang datar dan tanpa jiwa. Sebaliknya, aturan yang adil menjaga agar akting manusia tetap dihargai. Singkatnya, ini soal apakah game masa depan masih punya sentuhan manusia atau tidak.
Menurut saya pribadi, mogok ini adalah pengingat bahwa di balik karakter yang kita cintai ada orang sungguhan. Namun teknologi tidak akan berhenti, dan pertarungan soal AI di industri kreatif baru saja dimulai. Untuk memahami sudut pandang para aktor, video berikut menjelaskannya langsung dari mulut pelaku.
Kesimpulan
Mogok pengisi suara game menandai kali pertama industri game menghadapi pertanyaan besar soal batas AI secara serius. Kesepakatan 2025 memberi pengaman awal, namun aksi lanjutan di HoYoverse menunjukkan perjuangan belum tuntas. Oleh karena itu, kita sebagai gamer perlu tetap peduli, karena pada akhirnya suara di dalam game menentukan seberapa hidup dunia yang kita masuki. Untuk konteks lebih lengkap, kamu bisa baca catatan lengkap mogok SAG-AFTRA, dan simak juga ulasan kami soal gelombang PHK di industri game yang terjadi di periode yang sama.

