Pertama kali saya menamatkan sebuah game seharga penuh cuma dalam lima jam, reaksi pertama saya bukan kagum, tapi kesal. Padahal ceritanya bagus. Masalahnya, otak saya sudah terlanjur menghitung harga per jam seperti tukang parkir. Dari situ saya sadar bahwa menilai durasi game ternyata jauh lebih rumit dari sekadar melihat angka jam di layar akhir.
Faktanya, perdebatan soal panjang game sudah tua. Kasus The Order: 1886 di tahun 2015 jadi contoh paling terkenal, waktu banyak orang protes karena game seharga penuh bisa ditamatkan dalam sekitar lima jam. Sejak itu, pertanyaan yang sama muncul terus tiap ada game pendek keluar.
Kenapa menilai durasi game gampang bikin salah kaprah
Pertama, jam bermain bukan takaran kualitas. Sebuah game enam jam yang padat bisa terasa lebih memuaskan daripada game empat puluh jam yang isinya misi sampingan berulang. Sebaliknya, banyak game panjang sengaja diregangkan dengan grinding supaya angkanya kelihatan besar di kotak.
Selanjutnya, ada jebakan “harga per jam” yang menyesatkan. Kalau kita memaksakan logika itu, artinya game yang lebih panjang otomatis lebih layak dibeli, padahal belum tentu lebih seru. Misalnya, satu jam pertama Portal terasa jauh lebih berharga dibanding sepuluh jam menyusuri peta kosong.
Kemudian, tidak semua genre punya garis akhir yang sama. Game naratif punya durasi jelas, tapi game roguelike atau kompetitif nyaris tak terbatas. Karena itu, membandingkan durasi lintas genre sama saja seperti membandingkan film dengan serial.
Durasi hanya berarti kalau setiap jamnya terasa disengaja. Sebuah game pendek yang rapat sering lebih dihormati daripada game panjang yang bertele-tele.
Cara membaca panjang game dengan lebih jujur
Pertama, pisahkan durasi dari kepadatan. Tanyakan bukan cuma “berapa jam”, tapi “seberapa banyak jam itu terisi ide baru”. Game pendek yang tiap babaknya memperkenalkan mekanik segar biasanya lebih tinggi nilainya daripada yang mengulang hal sama.
Selanjutnya, cek konteks harga dan genre. Game indie pendek seharga murah jelas beda perlakuan dengan game AAA seharga penuh. Oleh karena itu, keluhan soal durasi harus selalu ditimbang bareng banderol harganya, bukan berdiri sendiri.
Kemudian, hati-hati dengan angka dari situs seperti HowLongToBeat. Angka itu berguna sebagai gambaran kasar, tapi gaya main tiap orang beda jauh. Seseorang yang menjelajahi tiap sudut peta akan melihat durasi dua kali lipat dari pemain yang lari lurus ke akhir cerita.
Untuk konteks lebih dalam soal sejarah dan definisi game video, kamu bisa baca artikel Permainan video di Wikipedia. Selain itu, kalau kamu tertarik topik penilaian yang lain, cek juga ulasan kami soal cara menilai game free to play secara adil.
Penutup: durasi cuma satu potongan cerita
Jadi, menilai durasi game bukan soal menghukum yang pendek atau memuji yang panjang. Sebaliknya, ini soal menimbang apakah waktu yang ditawarkan terasa sepadan dengan pengalaman dan harganya. Kadang lima jam yang sempurna lebih layak daripada lima puluh jam yang membosankan.
Akhirnya, saran saya sederhana. Jangan langsung percaya pada angka jam di kotak game atau di skor review. Baca dulu isi ulasannya, lihat apakah durasinya terasa disengaja atau cuma tambalan, lalu bandingkan dengan harganya. Dengan begitu, kamu beli game karena pengalamannya, bukan karena hitungan menit yang menipu.

